FORUM KAJIAN ANTROPOLOGI INDONESIA Rotating Header Image

Tulisan Sarasehan Nasional Antropologi 2010

Berikut link-link tulisan para pemakalah pada Sarasehan Nasional Antropologi 2010.


SNA2010_Seminar_TKF_Antropologi dan Pendidikan Nusantara

SNA2010_Seminar_SulistyawatiIrianto_Antropologi dan Pembangunan Hukum

SNA2010_SEMINAR_PRUDENSIUS MARING_KETIKA KOLABORASI DAN PERLAWANAN BERSINERGI

SNA2010_Seminar_PM Laksono_Mewacanakan Pemberdayaan Masyarakat dalam Antropologi

SNA2010_Seminar_Pinky Saptandari _Gender& Migrasi Global

SNA2010_Seminar_PawennariHijjang_BALADA KOMUNITAS ADAT TANA TOA

SNA2010_Seminar_NKleden_Posisi Antrop dalam Studi Kemiskinan

SNA2010_Seminar_HSA_Rontoknya Mitos karakter Bangsa

SNA2010_Seminar_YKB_Negara-Agama-Budaya-Atoin Pah Meto&Multikulturalisme

SNA2010_SEMINAR_RUMUSAN

SNA2010_KMLVII_Zulyani Hidayah_RASA DAN CITARASA MAKANAN NUSANTARA

SNA2010_KMLVII_F-Welirang_Anekaragaman Makanan Nusantara Masa Kini_Paper+PPT-

SNA2010_KMLVII_Edhi Martono_Diversifikasi vs Krisis Pangan

SNA2010_KMLVII_BS-Soepandji_Ketahanan Pangan dan Pertahanan Negara

Antropologi , Pendidikan dan Karakter Bangsa

Antropologi , Pendidikan dan Karakter Bangsa
Pembicara: Prof. Dr. Sri Ahimsa Putra dan Teuku Kemal Pasya, MA
Moderator: R. Yando Zakaria | Perumus: Iwan Meulia Pirous

Studi-studi tentang budaya dan kepribadian berkembang dalam disiplin antropologi untuk mencari watak khas etnis dan juga bangsa.Tapi perkembangannya lambat dan problematik. Bagaimana memetakan keanekaragaman kepribadian 800 etnis, kecuali dengan membangun mitos hasil abstraksi tentang kepribadian?

Ciri khas menarik tentang “watak Indonesia” dapat dilihat dari ciri-ciri kebudayaan-kebudayaan etnis yang digali dari berbagai etnografi yaitu keterbukaan terhadap pengaruh asing yang dijadikan milik sendiri. Ada unsur sinkretisme dan akulturasi yang dianggap wajar. Tapi benarkah demikian?

Karakter bangsa adalah sesuatu yang kabur, mitos dan selalu dicari wajah jelasnya di tiap zaman. Perdebatan keindonesiaan di Indonesia dalam wacana tercatat bertahap. Episode pertama: Perdebatan Keindonesaan pertama: Polemik Kebudajaan (1930an) tentang wajah Barat vs Timur. Episode kedua: Episode kedua: Mochtar Lubis Manusia Indonesia yang merupakan otokritik pedas tentang kemunafikan orang Indonesia. Episode ketiga: Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Masa pasca reformasi adalah episode keempat, segala wacana yang pernah ada nampak hancur dan sentimen keindonesiaan untuk solidaritas masuk dalam titik nadir terendah.

Konstitusi Indonesia dengan jelas menekankan bahwa pluralitas adalah hal alami bagi karakter Indonesia yang demokratis. Hak warganegara termasuk hak kultural dan akses terhadap pendidikan dilindungi sebagai tanggungjawab sosial negara terhadap warga.
Tapi, dalam praktiknya, prinsip-prinsip demokratis tidak ditanamkan melalui sistem pendidikan. Dalam kenyataan, pendidikan belum jadi instrumen pembangunan kebudayaan nasional. Dialog inter-kultural, pengakuan terhadap perbedaan dan penguatan hubungan-hubungan sosial semakin absen.

Sistem pendidikan saat ini berorientasi pada pencapaian standar angka yang individual terlebih dengan masuknya kapitalisme mutakhir. Kompetensi yang ditawarkan dalam pendidikan sangat individual, tidak bersifat komunal. Pendidikan yang seharusnya memperkuat relasi sosial yang diambil dari unsur-unsur sangat lokal telah berubah menjadi penguatan individual. Pendidikan di Indonesia sangat tidak demokratis. Konsep demokratisasi justru dimatikan oleh pendidikan itu sendiri.
Apa yang harus dilakukan ke depan

Antropologi harus kritis. Antropolog bisa menginventarisasi arena sosial seperti apa utk pendidikan kita? Kita perlu peka terhadap variasi budaya dan pemetaan terhadap arena sosial. Sekolah hanya satu komponen saja, sementara sosialisasi “kongkret” berlangsung di ruang publik yang berperan dalam pendidikan. Pertanyaan antropologis dan pendidikan antropologi macam apa yang harus kita ajukan agar kita mengerti? Antropologi memang perlu berkontribusi, tapi kontribusi dalam bentuk seperti apa yang dibutuhkan sekarang?

SEKIAN.

Sejauh mana Re-invensi kita?

resume Seminar Antropologi Terapan:

Re-Invensi Antropologi Indonesia di Era Demokrasi dan Globalisasi 22 Juli 2010

Sejauh mana Re-invensi kita?

Dari tujuh tema yaitu:
1. Pembangunan Hukum di Indonesia
2. Otonomi Lokal dan Ketahanan Nasional
3. Antropologi, Pendidikan, dan Karakter Bangsa
4. Agama, Etnisitas dan Multikulturalisme
5. Gender, dan Migrasi Global
6. Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat
7. Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam

Kita dapat menemukan kegelisahan akademik teman-teman dalam menggeluti fenomena kehidupan yang terjadi dalam kapasitas sebagai antropolog. Wacana yang berkembang dalam makalah dan diskusi menggambarkan adanya friksi yang semakin keras di antara kelompok sipil, negara, adat, kepentingan bisnis dalam memperebutkan dan menguasai sumberdaya. Friksi ini diperkirakan semakin mengeras dan mengakibatkan yang menunjukkan krisis yang meluas dalam kehidupan masyarakat kita.

Juga kita melihat betapa landscape etnografis kita telah menjelma menjadi semakin kaya dan memperlihatkan ciri khas: migrasi intensif dan ekstensif, menguatnya kapitalisme mutakhir, pengentalan dan resistensi identitas, adanya pertentangan kelas sosial yang semakin terbuka, intervensi negara, parpol, dan organisasi non-pemerintah.

Ada kegalauan dalam hal bentuk kontribusi yang tepat sebagai antropolog. Antropologi memang perlu berkontribusi, tapi kontribusi dalam bentuk seperti apa yang dibutuhkan sekarang? Antropolog memang dituntut untuk pandai membaca masyarakat, tapi apakah kita sudah membaca dengan benar? Kegalauan ini menuntut kita untuk mengkritik diri.

Dalam berbagai tema yang disajikan terlihat adanya gairah kawan-kawan untuk tanpa tanggung-tanggung terjun menjadi intelektual yang memfasilitasi dan mengadvokasi pemberdayaan komunitas. Di sisi lain, berpikir diluar kotak-kotak ideologis keilmiahan kita tidak mudah, dan masih saja kita terjebak dalam cara-cara yang pernah kita pikir tepat, sesungguhnya merupakan daur ulang periode sebelumnya.
Dalam dua hari perdebatan, ada tiga peta yang hadir:

  1. Wacana esensialis tentang karakter budaya ideal, kearifan lokal, sebagai suatu yang menjadi titik sentral bergerak sebagai antropolog.
  2. Wacana dialogis tentang hubungan inter-kultural, antar-perbedaan, dan pentingnya hak-hak berbudaya sebagai titik sentral antropolog.
  3. Wacana aktivisme yang membumikan teori-teori menjadi akal sehat untuk untuk melakukan transformasi sosial.

Langkah ke depan
Reinvensi antropologi saat ini adalah membuatnya menjadi lebih kritikal termasuk mampu untuk lebih memberdayakan diri sendiri dan orang lain. Antropologi ditantang bukan berdebat-tulis, tapi menulis utk menimbulkan aksi. Antropologi punya kesempatan untuk melakukan ruang sadar diri dengan melakukan refleksi.
Kita perlu lebih sering duduk bersama dan saling berbagi pengalaman dengan suasana terbuka dan siap menerima kritik dari orang lain.
Perlu memilih paradigma (teori dan metodologi) karena akan berkonsekuensi pada posisi antropolog dalam profesi dan komunitasnya. Pilih dulu posisi paradigma, baru kemudian kerja.
Antropologi punya kemampuan spesial memahami diferensiasi, tapi ini tidak akan ada manfaatnya kalau kita tidak dapat menempatkan diri dalam dinamika keberagaman yang kita hadapi sebagai kegiatan reflektif yang harus dilakukan terus-menerus.

Cisarua, 22 Juli 2010

Tim Perumus Seminar Antropologi Terapan “Antropologi dalam Lintasan Pembangunan Indonesia”, Seminar Nasional Antropologi 2010

Ketua Perumus: Iwan Tjitradjaja

Anggota Perumus:

- Ruddy Agusyanto
- Yulizar Syafri
- Iwan Pirous
- Irwan Martua
- Haswinar Arifin
- Nursyirwan Effendi
- Fikarwin Zuska

Continue reading →

Keanekaragaman Makanan Indonesia dan Ketahanan Pangan Nasional

RANGKAIAN SARASEHAN NASIONAL ANTROPOLOGI 2010, 21-23 Juli 2010

DAY 1 : KOENTJARANINGRAT MEMORIAL LECTURES VII/2010

Rumusan

“Keanekaragaman Makanan Indonesia dan Ketahanan Pangan Nasional”

21 Juli 2010

Pengertian budaya kuliner: keseluruhan pola pemikiran dalam memenuhi kebutuhan makan. Termasuk teknik, strategi, sistem pengadaan, pengolahan, cara menghidangkan, distribusi, dan pengawetan dan tentunya selera.

Negara dalam sejarahnya berperan dalam mengubah cara pandang pangan yaitu beras adalah utama. Ini mengubah pola makan dalam skala besar. Bangsa Indonesia adalah konsumen beras terbesar di ASEANL 132 kg/kapita per tahun. Ini luar biasa sekaligus harus diwaspadai.

Dalam perspektif Pertahanan Negara, Ketahanan pangan merupakan bagian dari total defense. Tapi defense dan ketersediaan dalam bentuk bagaimana yang berkelanjutan?

Dominasi beras dalam budaya pangan nasional mempunyai konsekuensi sosial kejam. Dalam hal ini kepincangan kelas Kaya-Miskin. Tidak ada petani yang mau anaknya jadi petani dalam negeri agrikultural ini adalah krisis kultural yang akut.

Lalu ini hal yang terlupakan: Sumberdaya pangan non-beras, jagung, gandum, sagu, singkong, ubi jalar, ganyong, talas merupakan ciri khas pangan tropis Indonesia yang sudah menjadi budaya kuliner, menjadi terpuruk.

Berkaca pada keanekaragaman, Semakin “primitif”, malah justru semakin banyak pilihan makanannya.. ! J

Kurangnya variasi pangan dan terutama pengolahan pangan terkait erat dengan semakin minimnya pengetahuan kita tentang rasa, warna, bau yang mungkin sudah merupakan pesan kultural dari nenek moyang yang sudah kita lupakan. Ini dampak globalisasi, diversifikasi pangan dalam kenyataan terancam oleh monokulturalisasi yang diperkenalkan lewat budaya konsumsi global.

APA YANG HARUS DILAKUKAN KEDEPAN:

Kita perlu memperhatikan aspek produksi pangan, bukan saja distribusinya. Bisnis besar punya kecenderungan ekspansif untuk memproduksi mega-pangan tapi ada ekses kultural bagi penduduk setempat. Kasus Merauke Food Estate akan menjadi cerita Horror di Papua mungkin dalam 10 tahun kedepan.

Industri besar harus disikapi hati-hati. Masih ada masalah berat seperti Sawitisasi nasional, atau fokus terhadap cashcrops yang sangat mungkin membuat kerentanan pangan skala besar dan menghapus keanekaragaman.

Bagaimana modernisasi teknologi penyediaan dan pengelolaan pangan memang perlu, namun bagaimana melihat bentuk modernisasi yang menggunakan teknologi rakyat yang melibatkan orang banyak? Sejauh mana perusahaan, masyarakat dapat memahami bahwa industri pangan jangan sampai membunuh nuansa kultural dalam sistem produksi.

Tantangan masa depan bagi masyarakat urban adalah kecepatan instant yang sehat dan bergizi serta menyenangkan. Memang akan ada perubahan sosial yaitu jumlah makanan cemilan semakin banyak, suatu saat orang akan lebih banyak makan cemilan daripada makanan pokok.

Perlu studi-studi antropologi kuliner tentang makna selera untuk pengembangan budaya kuliner kedepan yang sehat, lezat, rendah kalori, dan aman dengan mempertahankan pada keanekaragaman.

Bukan itu saja, sejauh mana antropologi bisa bicara banyak hal tentang budaya Indonesia secara kritis dari makanan? Antropologi juga harus melakukan gerakan emansipatoris bagi komunitas-komunitas untuk dapat kembali mengenali kembali potensi kultural pangannya yang mungkin telah hancur?

Antropologi perlu bersuara bahwa kuliner tidak terlepas dari konsumsi dan kapitalisme mutakhir. Identitas sosial menyangkut kelas sosial dapat terlihat lewat pola-pola makan yang akhirnya bisa dijadikan bahan refleksi tentang kesenjangan sosial-budaya atau juga polarisasi kelas di Indonesia.

Pentingnya pengakuan kultural terhadap perbedaan tradisi kuliner menunjukkan keberagaman yang wajar sebagai mekanisme kultural untuk survival. Apa yang diperlukan masyarakat adalah ruang pengakuan terhadap pilihan-pilihan kulinernya. Industri dapat membantu dengan menyediakan ruang-ruang keberanekaragaman tersebut dengan catatan: BUKAN SAJA KETAHANAN PANGAN, TAPI KEDAULATAN PANGAN TIDAK BOLEH HILANG.

 

Cisarua, 21 Juli 2010

 

Iwan Meulia Pirous

AGENDA “SARASEHAN NASIONAL ANTROPOLOGI INDONESIA 2010″

Rabu, 21 Juli 2010

No

Waktu

Durasi

Agenda

Pembicara

Moderator

Perumus

1

07:30-08.20

50′

Pendaftaran Peserta

Panitia

2

08:20-08:30

10″

Laporan

Ketua Panitia

Mulyawan Karim

Panitia

3

08:30-08:45

15″

Sambutan

Hari Untoro (Ditjen Sejarah)

Panitia

4

08:45-09:00

15″

Pembukaan

Menteri Negara Budpar

Ir. Jero Wacik, SE

Panitia

5

09.00-09.15

15”

Keynote Speech

Prof.Dr. Subur Boedisantoso

Panitia

6

09:15-09:30

15″

Rehat kopi

Panitia

Panel Koentjaraningrat Memorial Lecture

I

Sub Tema :

6

09:30-10:30

60″

Sesi 1

“Anekaragam Makanan Nusantara Masa Kini”

Franky Welirang

Rusli Cahyadi

Iwan M. Pirous

“Rasa dan Aneka Cita Rasa Nusantara dan Ketahanan Pangan”

Dr Zulyani Hidayah

7

10:30-11:30

60″

Sesi 2

“Ketahanan Pangan dan Pertahanan Negara”.

Prof. Dr. Budi Susilo Soepandji

“Diversivikasi Pangan dan Ketersediaannya di Alam”

Prof. Dr. Ir. Edhi Martono

8

11.30-12.30

60″

Tanya Jawab

9

12.30-13.30

60″

Makan Siang

II

Seminar Antropologi Terapan

10

13.30-14.30

60″

Keynote speech

Antropologi dalam Lintasan Pembangunan Indonesia

Prof. Dr. Meutia Hatta

11

14.30–15.30

60″

Panel 1

Antropologi dan Pembangunan Hukum di Indonesia

1. Sulistyowati Irianto/UI

R. Yando Zakaria /Karsa

Rudy Agusyanto/PAJS

2. Simon Abdi Frank/Uncen

12

15.30-16.00

30”

Tanya Jawab

16.00-16.15

15″

Rehat Kopi

13

16.15-17.15

60″

Panel 2

Antropologi, Otonomi Lokal dan Ketahanan Nasional

1. Agus Dumatubun/Uncen

Dwi Putro Sulaksono /Unlam

Yulizar Syafri/PTIK

2. Laurentius Dyson/Unair

14

17.15-17.45

30″

Tanya Jawab

15

19.00-20:00

60″

Makan Malam

16

20.00-21.00

60″

Sidang Pembentukan Komisi-Komisi Kongres AAI

Zulyani Hidayah

Kamis, 22 Juli 2010

No

Waktu

Durasi

Agenda

Pembicara

Moderator

Perumus

II

Seminar Antropologi Terapan

Sub Tema

1

09:00-10:00

60″

Panel 3

Antropologi, Pendidikan dan Karakter bangsa

Heddy Shri Ahimsa Putra

Nursamsiah Asharini/Dikti

Maria Henny Pratiknjo/Unsrat

Iwan M. Pirous/UI

2

10.00-10.30

30″

Tanya Jawab

3

10.30-10:45

15″

Rehat Kopi

4

10.45-11.45

60″

Panel 4

Antropologi, Agama, Etnisitas dan Multikulturalisme

Selly Riawanti/Unpad

Yanuarius Koli Bau/Undana

Lamtiur Tampubolon/Atma Jaya

Haswinar Arifin/Akatiga

5

11.45-12.15

30″

Tanya Jawab

6

12:15-13:15

Makan Siang

7

13:15-14:15

60″

Panel 5

Antropologi, Gender dan Migrasi Global

Ratna Saptari / Univ.Leiden

Pinky Saptandari/Unair

Dave Lumenta/UI

Irwan Martua Hidayana/UI

8

14.15-14.45

30″

Tanya Jawab

9

14.45-15.00

15″

Rehat Kopi

10

15.00-16.00

60″

Panel 6

Antropologi, Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat

Ninuk Kleden

PM. Laksono/UGM

Semiarto Aji Purwanto/UI

Nursyirwan Effendi/Unand

11

16.00-16.30

30″

Tanya Jawab

12

16.30-17.30

60″

Panel 7

Antropologi, Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam

Prudensius Maring / UI

Pawennari Hijjang/Unhas

Teuku Kemal Pasya/Unmal

Fikarwin Zuska/USU

13

17.30-18.00

Tanya Jawab

14

19.00-20.00

60”

Makan Malam

15

20.00-20.30

30″

Penyampaian Rumusan Hasil Seminar

Ketua Tim Perumus Iwan Tjitradjaja

16

20.30-20.45

15”

Pidato Penutupan Seminar Antropologi Terapan

Ketua Panitia Pelaksana Raymond Michael

Persiapan Pra Kongres

17

20.45-21.45

60″

Sidang Komisi-Komisi

Zulyani Hidayah

Jumat, 23 Juli 2010

No

Waktu

Durasi

Agenda

Keterangan

Pimpinan Sidang

III

Kongres AAI (sambungan)

1

09:00-09.15

15″

Pidato Pertanggungjawaban

Ketua Umum AAI : Kartini Sjahrir

Pimpinan Sidang

09:15-09.30

15″

Pidato Sambutan

Pengamat : Gregory Acciaoli

(Tema: Mau Kemana Asosiasi Antropologi Indonesia?: Proses Perkembangan Asosiasi Se Dunia)

2

09.30-10.00

30”

Rehat kopi

3

10:00-11:30

90″

Sidang komisi

Pembacaan Hasil Sidang Komisi I, II, III

Ketua Komisi

4

11:30-13:30

120″

Sholat Jumat/Makan Siang

5

13.30-15.30

120″

Sidang Pleno

Pemilihan Ketua AAI Periode ke 3

Ketua Komisi

6

15.30-16.00

30″

Rehat Kopi

7

16.00-17.00

60”

Sidang Pleno

Pengumuman Struktur Pengurus AAI

Pimpinan Sidang

8

18.00-19.00

60”

Makan Malam

No

Waktu

Durasi

Agenda

Pembicara

Moderator

Perumus

1

07:30-08.20

50′

Pendaftaran Peserta

Panitia

2

08:20-08:30

10″

Laporan

Ketua Panitia

Mulyawan Karim

Panitia

3

08:30-08:45

15″

Sambutan

Hari Untoro (Ditjen Sejarah)

Panitia

4

08:45-09:00

15″

Pembukaan

Menteri Negara Budpar

Ir. Jero Wacik, SE

Panitia

5

09.00-09.15

15”

Keynote Speech

Prof.Dr. Subur Boedisantoso

Panitia

6

09:15-09:30

15″

Rehat kopi

Panitia

Panel Koentjaraningrat Memorial Lecture

I

Sub Tema :

6

09:30-10:30

60″

Sesi 1

“Anekaragam Makanan Nusantara Masa Kini”

Franky Welirang

Rusli Cahyadi

Iwan M. Pirous

“Rasa dan Aneka Cita Rasa Nusantara dan Ketahanan Pangan”

Dr Zulyani Hidayah

7

10:30-11:30

60″

Sesi 2

“Ketahanan Pangan dan Pertahanan Negara”.

Prof. Dr. Budi Susilo Soepandji

“Diversivikasi Pangan dan Ketersediaannya di Alam”

Prof. Dr. Ir. Edhi Martono

8

11.30-12.30

60″

Tanya Jawab

9

12.30-13.30

60″

Makan Siang

II

Seminar Antropologi Terapan

10

13.30-14.30

60″

Keynote speech

Antropologi dalam Lintasan Pembangunan Indonesia

Prof. Dr. Meutia Hatta

11

14.30–15.30

60″

Panel 1

Antropologi dan Pembangunan Hukum di Indonesia

1. Sulistyowati Irianto/UI

R. Yando Zakaria /Karsa

Rudy Agusyanto/PAJS

2. Simon Abdi Frank/Uncen

12

15.30-16.00

30”

Tanya Jawab

16.00-16.15

15″

Rehat Kopi

13

16.15-17.15

60″

Panel 2

Antropologi, Otonomi Lokal dan Ketahanan Nasional

1. Agus Dumatubun/Uncen

Dwi Putro Sulaksono /Unlam

Yulizar Syafri/PTIK

2. Laurentius Dyson/Unair

14

17.15-17.45

30″

Tanya Jawab

15

19.00-20:00

60″

Makan Malam

16

20.00-21.00

60″

Sidang Pembentukan Komisi-Komisi Kongres AAI

Zulyani Hidayah

SARASEHAN NASIONAL ANTROPOLOGI 2010

SARASEHAN NASIONAL ANTROPOLOGI 2010
TEMA: “Re-invensi Antropologi Indonesia di Era Demokrasi dan Globalisasi”

Serangkaian kegiatan dalam rangka membentuk dan mengaktifkan kembali Asosiasi Antropologi Indonesia

1. Seminar Nasional “Antropologi dalam Lintasan Pembangunan Indonesia”
- Antropologi dan Pembangunan Hukum di Indonesia
- Antropologi, Otonomi Lokal dan Ketahanan Nasional
- Antropologi, Pendidikan dan Karakter Bangsa
- Antropologi, Agama, Etnisitas dan Multikulturalisme
- Antropologi, Gender dan Migrasi Global
- Antropologi, Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat
- Antropologi, Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam

2. Kongres AAI
Pertanggungjawaban ketua lama, Rapat Komisi-Komisi, Pemilihan ketua baru AAI masa bakti 2010-2015

3. Koentjaraningrat Memorial Lecture Ke-7
Tema: “Keanekaragaman Makanan Indonesia dan Ketahanan Pangan Nasional”

Pembicara: Franky Welirang (PT Indofood Sukses Makmur); Zulyani Hidayah (KRT/UI); Budi Susilo Soepandji (Kementerian Hankam). Edhi Martono (Pascasardjana UGM)

Keluaran yang Diharapkan
1. Deklarasi profesi antropologi sebagai ilmu dasar bagi pembangunan bangsa indonesia yang majemuk.
2. Terbentuknya pengurus Asosiasi Antropologi Indonesia Periode 2010-2015 dan mengantarkannya sebagai organisasi profesi ilmiah yang legal formal;
3. Prosiding kegiatan sarasehan nasional antropologi.
4. Penerbitan buku kumpulan makalah hasil Seminar Nasional Antropologi Terapan dan Koentjaraningrat Memorial Lectures.

Hasil yang Diharapkan
1. Terwujudnya bidang antropologi sebagai disiplin ilmu dasar manusia, masyarakat dan budaya di Indonesia.
2. Diakuinya Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) sebagai organisasi profesi yang resmi dan berguna bagi pembangunan bangsa Indonesia.

Info dan Pendaftaran:
yayasan.fkai@gmail.com
( Lilik : 0817 686 1720 / Ummy 021-32726386)

—-

Panitia menyediakan transportasi bus kapasitas 22 orang di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat (di terminal bus DAMRI Gambir-Bandara Soekarno Hatta) pada tanggal 20 Juli 2010, dengan 3 waktu pemberangkatan, yaitu : Pkl 14.00, 17.00 dan 20.00 WIB.

The Dancing Peacock (Merak Ngibing)

 

Bentara Budaya Jakarta, 20-30 Mei 2010image002

 

Bentara Budaya Jakarta (BBJ) Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI) dan Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) menyelenggarakan pameran batik priangan bertajuk “The Dancing Peacock”.

Pameran bertujuan untuk ikut membangkitkan kembali dan melestarikan tradisi seni batik priangan, salah satu bentuk warisan budaya bangsa yang berada di ambang kepunahan. Batik priangan adalah tradisi seni kerajinan batik yang tumbuh di berbagai daerah pedalaman Jawa Barat, mulai dari Cianjur, Sukabumi, Bandung, terutama di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.

Judul “The Dancing Peacock” diambil dari motif kain batik priangan yang paling khas, dan mungkin yang terindah, disebut motif merak ngibing, yang artinya “merak menari”, the dancing peacock. Motif kain batik ini menggambarkan dua ekor burung merak yang indah, berhadap-hadapan sambil mengembangkan bulu ekornya yang warna-warni, seperti sedang menari.

Dalam pameran ini akan dipamerkan sekitar 100 helai kain batik priangan milik para kolektor di Jakarta dan Bandung, Museum Tektstil Jakarta, serta
milik para pembatiknya yang masih tersisa di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Sebagian merupakan kain batik yang tergolong antik, dengan warna-warna dan motif-motif yang tak lagi dibuat sekarang ini. Selama berlangsungnya pameran juga akan diselenggarakan acara diskusi, klinik konservasi kain batik, serta penjualan batik priangan, yang diharapkan juga dapat memicu semangat para pengrajinnya agar terus berkarya dan berkreasi.

20 Mei 19.30 – 21.00

Pembukaan Pameran dan Bazar dari UKM Pengrajin Batik Tasikmalaya, Ciamis, dan Garut.

22 Mei 10.00 – 12.00

Workshop membatik dengan peserta dari Siswa-siswi Sekolah (SLTP/SLTA, Pelatih dari Museum Tekstil)

24 Mei 14.00 – 16.00

Talk Show “Motif dan Warna Batik Priangan:” oleh Didit Pradito, Herman
Jusuf, dan S.Ken Atik Djatmiko.

Peluncuran buku: “The Dancing Peacock. Colours and Motifs of Priangan Batik”

26 Mei 10.00 – 12.00

Talkshow: “Perawatan dan Restorasi Kain Tradisional” (oleh Museum Tekstil, Jakarta)

29 Mei 10.00 – 12.00

Workshop membatik dengan peserta umum (pelatih dari Museum Tekstil)

Bazaar dari UKM Pengrajin Batik Tasikmalaya, Ciamis, dan Garut berlangsung sampai 30 Mei 2010

 

Informasi: Ummy, 021-32726386, 081311303973

Pelanggaran Hak Kultural di Tangerang

Hari ini terjadi tragedi di Tangerang. Komunitas Tionghoa Cina Benteng diusir oleh pemerintah kota. Ini suatu pelanggaran serius terhadap prinsip multikulturalisme, hak berbudaya, dan hak asasi manusia. Prinsip multikulturalisme mengatur hubungan warga dan negara, sebagai prinsip menghargai perbedaan kultural, sejarah, dan pandangan politik sebagai kehidupan wajar di ruang publik warganegara yang harus dilindungi negara melalui undang-undang.

Sebetulnya, UUD 1945 sudah mengatur bahwa negara bertanggungjawab terhadap kehidupan dan perkembangan kultural. Fakta bahwa Indonesia adalah kawasan multi-etnis, ramah terhadap peradaban asing, melakukan akulturasi dan sinkretisme intensif sepanjang sejarah menjadi iklim khas untuk multikulturalisme sebagai prinsip politik — BAHKAN jauh lebih ideal dan durable dan toleran, dibandingkan peradaban Eropa yang berdarah-darah dengan konflik antar-etnisnya sebelum mereka menjadi bangsa-bangsa.

Kembali ke Tangerang. Kawasan ini telah menjadi hunian bagi keturunan Cina semenjak abad ke-17. Mereka adalah warganegara Indonesia dengan hak-haknya seperti kita. Saya menghimbau agar kita para antropolog dalam posisi sebagai pengajar, peneliti, praktisi, aktivis mengeluarkan suatu pernyataan keras terhadap tindakan diskriminatif yang brutal ini.

Kutipan detik.com:

Jakarta – Pagi ini, seribuan warga Cina Benteng yang tinggal di Kampung Lebak Wangi, Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang akan diusir paksa oleh Pemkot Kota Tengerang, Banten dari rumahnya. Padahal, mereka telah menghuni kawasan tersebut sejak abad ke 17 dan telah berasimilasi dengan penduduk setempat selama berabad-abad.

 

“Pagi ini rencananya Pemkot Tangerang akan menggusur kawasan bersejarah tersebut,” kata pengacara warga dari LBH Jakarta, Eddy Halomoan Gurning kepada wartawan di kantor LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin (12/4/2010).

Sebanyak 350 KK atau 1.007 jiwa yang terdiri dari 477 perempuan, 339 anak-anak, 129 laki-laki serta 12 orang penderita keterbelakangan mental terancam kehilangan tempat tinggalnya. Padahal mereka telah melalui proses panjang asimilasi dan akulturasi yang menghasilkan sumbangan besar terhadap kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia.

Tari Cokek dan alunan musik Gambang Kromong merupakan dua dari banyak jenis kesenian hasil perjumpaan dua kebudayaan yang berbeda, tionghoa-betawi. “Pemerintah beralasan, rumah-rumah digusur karena melanggar Perda No 18 tahun 2000, tentang Keindahan, Ketertiban, dan Keamanan (K3) Kota Tangerang,”
tambahnya.

Jika rencana penggusuran ini tetap dilakukan, maka terjadi pelanggaran hak perumahan. Serta di khawatirkan akan berdampak pada berkurangnya atau hilangnya hak atas kesehatan, pendidikan serta hak atas lingkungan yang sehat dan bersih.

“Warga akan bertahan di rumah mereka. Jelas pengusuran paksa ini bersifat diskriminatif,” pungkasnya.
(asp/mok)

dari detik.com

Tags:

Update:

Warga Kampung Cina Benteng yang diam di bentaran kali dituding melanggar UU no 18 2003 tentang kebersihan, ketertiban, dan keindahan kota. Undang-undang karet yang terlihat sangat memuaskan kebutuhan keindahan optikal aparatus negara akan sebuah pemandangan steril sebagai satu-satunya syarat keindahan.

Kebrutalan masih terjadi sampai sore ini seperti diberitakan Tempo Interaktif.

Sebanyak 250 personil Satpol PP memaksa membubarkan barikade warga. Bahkan mereka menggunakan semprotan air pemadam kebakaran untuk membubarkan aksi penolakan penggusuran kampung Cina Benteng tersebut. Namun warga terutama ibu-ibu bertahan di jalan dan membiarkan tubuh mereka basah kuyup.

Tak hanya korban luka, beberapa warga juga terlihat pingsan dalam aksi penolakan ini. Termasuk koordinator warga Edi Liem. Warga yang ingin mempertahankan kampung leluhur mereka itu bertahan dengan berbagai cara mulai dari bergandengan tangan, duduk jika tak tahan diserang hingga tiduran di jalan.

Secara legalitas, kedudukan warga lemah dengan tiadanya dokumen hukum. Namun perlu dipahami bahwa kekerasan dalam bentuk apapun pada warga sipil adalah salah. Negara harus memahami bahwa suatu kawasan adalah ruang tempat tinggal, sekaligus juga tempat kerja dan tempat melakukan kegiatan-kegiatan sosial termasuk juga bekerja. Di situlah culture hidup.

Jika pemkot Tangerang memang ada maksud baik dan mengerti budaya, maka hal yang harus dilakukan adalah memindahkan warga tanpa menghilangkan hak-haknya akan ruang kultural. Berikan mereka tempat tinggal layak dan juga tempat melakukan pekerjaan.

Pelanggaran Hak Kultural di Tangerang

Hari ini terjadi tragedi di Tangerang. Komunitas Tionghoa Cina Benteng diusir oleh pemerintah kota. Ini suatu pelanggaran serius terhadap prinsip multikulturalisme, hak berbudaya, dan hak asasi manusia. Prinsip multikulturalisme mengatur hubungan warga dan negara, sebagai prinsip menghargai perbedaan kultural, sejarah, dan pandangan politik sebagai kehidupan wajar di ruang publik warganegara yang harus dilindungi negara melalui undang-undang.

Sebetulnya, UUD 1945 sudah mengatur bahwa negara bertanggungjawab terhadap kehidupan dan perkembangan kultural. Fakta bahwa Indonesia adalah kawasan multi-etnis, ramah terhadap peradaban asing, melakukan akulturasi dan sinkretisme intensif sepanjang sejarah menjadi iklim khas untuk multikulturalisme sebagai prinsip politik — BAHKAN jauh lebih ideal dan durable dan toleran, dibandingkan peradaban Eropa yang berdarah-darah dengan konflik antar-etnisnya sebelum mereka menjadi bangsa-bangsa.

Kembali ke Tangerang. Kawasan ini telah menjadi hunian bagi keturunan Cina semenjak abad ke-17. Mereka adalah warganegara Indonesia dengan hak-haknya seperti kita. Saya menghimbau agar kita para antropolog dalam posisi sebagai pengajar, peneliti, praktisi, aktivis mengeluarkan suatu pernyataan keras terhadap tindakan diskriminatif yang brutal ini.

Kutipan detik.com:

Jakarta – Pagi ini, seribuan warga Cina Benteng yang tinggal di Kampung Lebak Wangi, Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang akan diusir paksa oleh Pemkot Kota Tengerang, Banten dari rumahnya. Padahal, mereka telah menghuni kawasan tersebut sejak abad ke 17 dan telah berasimilasi dengan penduduk setempat selama berabad-abad.

“Pagi ini rencananya Pemkot Tangerang akan menggusur kawasan bersejarah tersebut,” kata pengacara warga dari LBH Jakarta, Eddy Halomoan Gurning kepada wartawan di kantor LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin (12/4/2010).

Sebanyak 350 KK atau 1.007 jiwa yang terdiri dari 477 perempuan, 339 anak-anak, 129 laki-laki serta 12 orang penderita keterbelakangan mental terancam kehilangan tempat tinggalnya. Padahal mereka telah melalui proses panjang asimilasi dan akulturasi yang menghasilkan sumbangan besar terhadap kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia.

Tari Cokek dan alunan musik Gambang Kromong merupakan dua dari banyak jenis kesenian hasil perjumpaan dua kebudayaan yang berbeda, tionghoa-betawi. “Pemerintah beralasan, rumah-rumah digusur karena melanggar Perda No 18 tahun 2000, tentang Keindahan, Ketertiban, dan Keamanan (K3) Kota Tangerang,”
tambahnya.

Jika rencana penggusuran ini tetap dilakukan, maka terjadi pelanggaran hak perumahan. Serta di khawatirkan akan berdampak pada berkurangnya atau hilangnya hak atas kesehatan, pendidikan serta hak atas lingkungan yang sehat dan bersih.

“Warga akan bertahan di rumah mereka. Jelas pengusuran paksa ini bersifat diskriminatif,” pungkasnya.
(asp/mok)

dari detik.com

Tags:

 

PRESS RELEASE SEDANG DISUSUN

Story of the Dancing Peacock

Bentara Budaya Jakarta (BBJ) akan menyelenggarakan pameran batik priangan betajuk “Story of the Dancing Peacock”. Pameran diselenggarakan bekerja sama dengan Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI) dan Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) dan akan berlangsung pada tanggal 20-30 Mei mendatang.

Penyelenggaraan pameran bertujuan untuk ikut membangkitkan kembali dan melestarikan tradisi seni batik priangan, salah satu bentuk warisan budaya bangsa yang berda di ambang kepunahan. Batik priangan adalah tradisi seni kerajinan batik yang pernah tumbuh dan berkembang di berbagai daerah pedalaman Jawa Barat, mulai dari Cianjur, Sukabumi, Bandung, namun terutama di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.

Dancing+Peacock2

Judul “Story of the Dancing Peacock” diambil dari nama salah satu motif kain batik priangan yang paling khas, dan termasuk yang terindah, yang disebut motif Merak Ngibing, yang artinya tak lain dari “Merak Menari”, dancing peacock. Motif kain batik ini menggambarkan dua ekor burung merak yang cantik, yang sedang berhadap-hadapan sambil mengembangkan sayap dan bulu ekornya yang warna-warni, seperti sedang menari.
Dalam pameran ini akan dipamerkan sekitar 100 helai kain batik priangan milik para kolektor di Jakarta dan Bandung, Museum Tektstil Jakarta, serta milik para pembatiknya yang masih tersisa di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Sebagian merupakan kain batik yang tergolong antik, dengan warna-warna dan motif-motif yang tak lagi dibuat sekarang ini. Selama berlangsungnya pameran juga akan diselenggarakan acara diskusi, klinik konservasi kain batik, serta penjualan batik priangan, yang diharapkan juga dapat memicu semangat para perajinnya agar terus berkarya dan berkreasi.

Videos, Slideshows and Podcasts by Cincopa Wordpress Plugin