BETAWI PUNYE GAYE “Inspirasi Kebudayaan Jakarta Asli”

 “BETAWI PUNYE GAYE”

Inspirasi Kebudayaan Jakarta Asli

Orang Betawi yang dianggap sebagai penduduk asli Jakarta adalah masyarakat dan kebudayaan yang merupakan hasil asimilasi berbagai bangsa dan budaya, termasuk Cina, Arab, Eropa, Bali, Jawa, dan Sunda. Nama yang disebut terakhir adalah nama etnik penduduk Sunda Kelapa, daerah pelabuhan yang kemudian berkembang menjadi Kota Batavia dan, kemudian, Jakarta sekarang. Percampuran aneka bangsa dan kebudayaan ini antara lain terefleksikan dalam gaya hidup orang Betawi, yang sisa-sisanya masih bisa terlihat hingga hari ini.

Wujud kebudayaan Betawi yang bersifat “gado-gado” terlihat nyata antara lain dalam arsitektur rumah Betawi asli, yakni rumah kayu atau rumah tembok yang berbentuk joglo jawa atau bali, namun berteras depan luas, yang merupakan pengaruh arsitektur rumah tropis Eropa (Indo-Belanda dan Portugis). Pengaruh asing juga muncul dalam desain interiornya, yang biasanya dilengkapi dengan perangkat kursi kayu Eropa tropis, yang dikenal sebagai perangkat kursi betawi.

Kebudayaan Betawi sebagai kebudayaan hibrida juga terwujud dalam gaya busana kaum perempuannya, yang memiliki tradisi mengenakan kebaya pendek atau kebaya panjang yang merupakan pengaruh busana perempuan Jawa. Baju kebaya ini dibuat dari bahan rubia atau voile yang dihias bordiran, yang disebut krancang. Juga ada jenis kebaya lain yang disebut kebaya eneng atau kebaya enyak, yang panjangnya melebihi lutut dan terbuat dari bahan voile bercorak.

Dulu, sampai sekitar akhir masa kolonial, kaum perempuan Betawi  menggemari kebaya warna putih dengan krancang putih, atau kebaya putih dengan krancang warna kombinasi. Ragam hias yang digemari adalah motif bunga dan  aneka macam daun tumbuhan yang ada di alam sekitar.

Busana kebaya sendiri sebetulnya berakar dari busana perempuan Portugis  yang disebut abaya. Dari abaya inilah kemudian lahir berbagai jenis kebaya Nusantara, termasuk kebaya encim milik kaum perempuan peranakan Tionghoa

Atasan kebaya dikenakan perempuan Betawi sebagai padanan kain sarung dan kain panjang batik. Kain batik yang paling digemari adalah kain batik pesisiran yang beragam hias motif pucuk rebung, disamping motif buketan. Motif pucuk rebung populer di kalangan wanita Betawi karena meruapakan simbol penolak bala.

Warna-warna yang digemari adalah warna-warna cerah, seperti merah, biru, ungu, hijau muda, kuning dan, jingga (oranye). Kaum wanita Betawi kurang menggemari kain warna sogan, yang menjadi warna khas kain  batik dari Solo dan Yogyakarta. Kain batik pesisiran yang umum dipakai perempuan Betawi berasal dari daerah Pekalongan, Cirebon, dan Lasem, termasuk kain batik karya Van Zuylen, Matzelaar, dan batik karya para pengerajin Kedungwuni, Pekalongan.

Kain batik dari berbagai daerah di pesisir utara Jawa itu dahulu dikirimkan ke Batavia alias Betawi. Sebagai komoditas perdagangan, di sana batik-batik itu diperjual-belikan di Koperasi Batik Batavia yang berada di Tanah Abang. Bahan kebaya dibeli para perempuan Betawi di Pasar Baru, antara lain di toko Babah Gendut. Sementara itu, pusat kerajinan krancang ada di daerah Palmerah dan Tanah Abang. Kebaya krancang juga ada yang diproduksi di Tasikmalaya, namun hasilnya dianggap tidak sebaik yang dibuat di sentra bordir krancang Palmerah.

Pada awal abad ke-20, orang Cina di Betawi memulai usaha batik mereka di daerah Setiabudi, Karet Belakang, Palmerah, Karet Tengsin. Batik yang dihasilkan berupa batik tulis, cap dan printing (yang dimulai pada tahun 1950an). Mereka menjualnya di sentra batik di Tanah Abang. Sayang, pada awal tahun 1970-an industri batik ini mulai menyusut. Banyak pengusaha batik di daerah Palmerah dan Karet yang menjual tanahnya kepada berbagai perusahaan pengembang yang kemudian di sana membangun gedung  perkantoran atau perumahan mewah. Mereka kemudian menyingkir ke daerah pinggiran Jakarta, ke daerah Serpong, Tangerang.

 

Pameran “Betawi Punye Gaya” berlangsung di Bentara Budaya Jakarta , 19-29  April 2012. Pameran ini akan menampilan sejarah kebudayaan Betawi yang diperlihatkan dengan berbagai unsur materi kebudayaan Betawi seperti interior dan arsitektur rumah tinggal, alat kesenian, busana, perhiasan dan berbagai foto hasil rekam kebudayaan Betawi tempo dulu dan masa kini. Kegiatan ini juga diramaikan oleh berbagai pertunjukan kesenian Betawi dan juga Temu Wicara yang akan membahas Sejarah kebudayaan Betawi dan relevansinya pada kehidupan masa kini.

Tujuan utama dari pameran ini adalah mendukung semangat revitalisasi dan pelestarian kebudayaan Betawi, khususnya yang terkait dengan berbagai kesenian dan produk artistiknya. Sedangkan tujuan khususnya adalah mendorong kebudayaan Betawi sebagai inspirasi kehidupan masa kini.

 

Pelaksana: Forum Kajian Antropologi Indonesia, Bentara Budaya Jakarta, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.

 

Next TENUN IKAT SUMBA: WARISAN BUDAYA YANG MENEMBUS ZAMAN

You might also like

KML

Pemimpin Nasional: Perlawanan Pangeran Nuku dari Tidore

Perlawanan Pangeran Nuku dari Tidore Oleh: Bondan Kanumoyoso Departemen Sejarah FIB UI Kemungkinan untuk mendapatkan untung yang besar dari perdagangan rempah-rempah di maluku berupa cengkeh dan pala merupakan hal yang

Etnologi

Peranakan Tionghoa Indonesia

Peranakan Tionghoa Indonesia Menurut catatan sejarah, hubungan antara Tiongkok dan Indonesia sudah berlangsung sejak abad ke-2 Masehi, pada zaman Dinasti Han. Jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Barat, para pedagang Tiongkok sudah

Etnologi

Warisan Budaya dan Kearifan Orang Mentawai

 “ARAT SABULUNGAN” (ADAT DEDAUNAN) Warisan Budaya dan Kearifan Orang Mentawai Suku bangsa Mentawai merupakan salah satu dari lebih 300 suku bangsa yang hidup di Indonesia atau Kepulauan Nusantara. Orang Mentawai

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply