[Bukan Catatan Lapangan] Edward Mahasiswa Perahu

[Bukan Catatan Lapangan]

Edward Mahasiswa Perahu

oleh: Sipin Putra

Fenomena lucu dan tidak biasa saya temui ketika melakukan penelitian lapangan di Manokwari. Ini merupakan kunjungan pertama saya ke Manokwari, Papua Barat. Kunjungan ini saya lakukan pada pertengahan November 2016. Ketika menginjakkan kaki di bandara Rendani, saya pun mulai mengaktifkan ponsel. Beberapa pesan WA dan email pun masuk. Sambil membaca pesan saya melihat lihat keramaian Bandara Rendani. Tampak para sopir dan tukang ojek yang menyapa ramah setiap penumpang. Muka sopir dan tukang ojek ini hampir berparas sama dan tampak masih muda. Saya pun ditawari oleh mereka, taksi mas? Taksi pak? Ojek mas? Mo pi kemana? Saya pun menggeleng dan senyum kepada mereka.

Saya pun dijemput oleh rekan peneliti yang membawa motor. Siang itu saya pun diajak berkeliling kota Manokwari. Secara geografis Manokwari merupakan daerah yang berbukit dan langsung menuju pantai. Pemandangan unik yang tampak adalah banyak anak-anak muda di kawasan pertokoan, warung, pasar dan pelabuhan-pelabuhan kecil. Jiwa dan rasa ingin tahu saya yang besar membuat saya memilih untuk menginap di penginapan dekat dengan pasar dan pelabuhan. Malam hari di depan penginapan “maluku” tetiba muncul pasar kaget. Lagi-lagi, banyak pemuda lokal yang kemudian menjadi tukang parkir dan pengamanan pasar malam tersebut.

Hari kedua saya di Manokwari, saya menyempatkan untuk menyeberang ke Pulau Mansinam. Sambil menunggu perahu di penyeberangan daerah Kwawi, tampak pemuda dengan kaos dan bersepatu mendekati kami dan bertanya dengan ramah. “kakak, mau nyebrang kah ke Mansinam?” saya jawab saja “iyah, mana perahunya?”. Tampaknya pemuda itu langsung senang dan menjawab, “sebentar lagi kakak, sedang menuju ke sini”, tunggulah sebentar ya kakak”. Saya pun membalas, “baiklah, eh berapa itu ongkos menyeberang ke Mansinam”? si Pemuda ini pun menjawab “ 5000 saja kakak, berdua su jadi 10.000 ya”. Saya pun tersenyum kepada pemuda tersebut.

Sambil menunggu di pos sederhana yang beratap rumbia, saya bersama dengan rekan peneliti lokal pun mengobrol di kursi panjang. Saya pun mendekati pemuda tadi dan mengajak ngobrol. Ternyata pemuda tukang perahu tadi adalah seorang mahasiswa. Edward namanya, dia merupakan mahasiswa universitas Papua, jurusan teknologi perikanan semester 3. Dia memang kalau sepulang kuliah sering menjadi pemuda perahu penyeberangan ke pulau Mansinam. Edward merupakan keturunan asli etnis Biak di Biak Numfor. Selepas lulus SMU, dia melanjutkan Kuliah di Kota Manokwari. Dia kemudian tinggal di kost-kostan bersama teman-temannya. Dia juga berkawan dengan Lucas, mahasiswa yang asli dari Pulau Mansinam. Keluarga Lucas mempunyai perahu motor yang biasanya dipakai oleh orang tuanya menjual hasil kebun dari Mansinam ke Manokwari.

Lucas akhirnya mengajak Edward untuk membantu menarik perahu pas mendarat dan mendorong perahu ketika akan berangkat. Edward sangat senang berprofesi ganda, selain sebagai mahasiswa yang harus berpenampilan rapi juga kadang berpenampilan kucel dengan kaos sobek-sobek menjadi pemuda perahu. Uang hasil dari menjadi pemuda perahu dipakai untuk bayar kontrakan, makan sehari-hari, rokok dan beli pulsa. Teman-teman penghuni kost-an mayoritas berasal dari daerah Biak. Edward merasakan betapa kuliah jauh dengan tempat tinggal membutuhkan kedewasaan dan kemandirian.

Setiap hari Edward bersama teman-temannya pergi ke kampus untuk mengikuti perkuliahan. Lokasi kampus UNIPA berada di pinggir kota. Selain itu, secara geografis kampus UNIPA berada di atas bukit Amban. Para mahasiswa UNIPA banyak yang kemudian memilih kost atau tinggal di kontrakan terutama yang berasal dari luar kota Manokwari.

Manokwari merupakan kota multi etnis yang menjadi tempat berbagai suku untuk mencari rezeki. Sebagai Ibukota Provinsi, Manokwari menawarkan berbagai macam kesempatan dalam bekerja maupun belajar. Universitas dan sekolah tinggi dapat menampung minat berbagai anak muda untuk mengenyam bangku kuliah. Tidak salah kemudian banyak putra-putri Papua dari pedalaman kemudian merantau ke Manokwari. Salah satu Universitas terkenal dan favorit di Manokwari adalah Universitas Papua. Universitas Papua merupakan Universitas Negeri terbaik di Provinsi Papua Barat.

Edward dan mayoritas teman-temannya menjadi pemuda perahu menyeberang ke pulau Mansinam juga kadang menjadi kuli bangunan. Penyeberangan yang ramai ini melayani rute Manokwari – Pulau Mansinam. Lama penyeberangan memakan waktu sekitar 20-30 menit. Biaya penyeberangan hanya 5000 rupiah. Biaya ini tergolong murah jika dibandingkan dengan harga bahan makanan di Kota Manokwari. Untuk sekali makan di warung kecil dengan lauk potongan ikan kita harus mengeluarkan uang sedikitnya Rp.25.000;  Pulau Mansinam merupakan pulau kecil yang menurut sejarah merupakan pulau pertama yang ditempati oleh misionaris dari Jerman. Pulau ini juga dihuni oleh masyarakat Papua asli. Mereka bercocok tanam dan bekerja sebagai nelayan. Hasil kebun dan hasil tangkapan ikan biasanya dijual di Manokwari. Oleh karena itu lalu lintas penyeberangan Pulau Mansinam ke Manokwari juga padat. Ditambah pula, kementerian Pariwisata telah mencanangkan Pulau Mansinam sebagai situs wisata religi sehingga banyak wisatawan yang berkunjung kesana setiap hari.

Tentang mahasiswa yang sekaligus menjadi pemuda Perahu menjadi hal yang lumrah di Manokwari. Status mahasiswa hanya ketika berada di kampus saja. Ketika sudah keluar dari lingkungan kampus maka status mereka pun berubah. Ada yang menjadi kuli bangunan, tukang parkir, tukang ojek dan juga pemuda perahu. Status sampingan ini dilakukan oleh mahasiswa demi menopang hidup di Kota Manokwari. Pilihan pekerjaan yang lebih mementingkan kepandaian sangat terbatas. Misalnya menjadi guru les, pekerja bank, pekerja hotel dan toko. Pilihan ini membutuhkan waktu yang tetap dan aturan yang mengganggu jadwal kuliah mereka. Oleh karena itu mereka lebih memilih menjadi tukang ojek bagi mahasiswa yang mempunyai kendaraan bermotor. Pilihan lainnya yaitu menjadi tukang parkir atau pemuda perahu karena bisa dilakukan pada saat siang atau sore hari serta kita bisa mengatur waktunya sendiri.

Edward dan Lucas tidak merasa malu ketika menjadi pemuda perahu. Malah mereka merasa bangga bisa kuliah dan mencari uang sendiri. Bahkan ketika yang naik perahu adalah teman-temannya, Edward dan lucas tidak segan-segan menyapanya. “sa kaget kalo yang naik itu cewek yang sa suka ma dia”, ungkap Edward bercerita kalo dia kadang kaget pas jadi pemuda perahu, kemudian yang naik adalah mahasiswi yang dia taksir.

Kegigihan dan semangat mereka bekerja dan kuliah patut kita apresiasi. Walaupun Manokwari sangat jauh dari hiruk pikuk kota Jakarta, namun mereka masih bangga dan semangat untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Perjuangan Edward dan Lucas masih panjang, mereka masih harus kuliah sedikitnya 2 tahun lagi baru kemudian dapat mengaplikasikan ilmu di kampung halamannya. Mereka tetap bersemangat kuliah agar dapat meraih impian dan merubah nasib keluarganya. Semoga Edward dan Lucas dapat meraih cita citanya dan menjadi kebanggaan warga Papua Barat.

Photo: Dokumentasi Sipin Putra

Previous Pemimpin Nasional: Imam Bonjol dan Gerakan Padri
Next Keadilan dan Akar Ekonomi-Politik Kemajemukan

You might also like

Etnologi

TENUN IKAT SUMBA: WARISAN BUDAYA YANG MENEMBUS ZAMAN

 TENUN IKAT SUMBA: WARISAN BUDAYA YANG MENEMBUS ZAMAN Masyarakat  penduduk Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, mengandalkan hidup terutama  dari kegiatan bertani atau beternak. Namun, menenun kain adalah mata pencaharian lain yang

Kekinian

Profil Pemimpin dan Strategi Meraup Massa

Profil Pemimpin dan Strategi Meraup Massa oleh : Sipin Putra email: sipin.putra(at)gmail.com ilustrasi gambar: http://www.oxfordpresents.com/ms/welsch/cover/ Tulisan ini membahas mengenai salah satu budaya politik yang pernah ada dalam sejarah peradaban bangsa.

Kekinian

SATU INDONESIA: Meneguhkan masyarakat multikultur

Tahun 2017 ini FKAI berencana untuk mempublikasikan tulisan dan wacana tentang kemajemukan. Untuk mengawali tahun ini, kami akan mengangkat kembali berbagai tulisan dan gagasan dari Prof. Parsudi Suparlan. Beliau telah

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply