Dinamika Kain Tenun Tradisional Sumba

Dinamika  Kain  Tenun  Tradisional  Sumba

oleh : Purwadi  Soeriadiredja

 


Kaum wanita di Pulau Sumba (Nusa Tenggara Timur) menghasilkan seni kerajinan berupa kain tenun yang dikenal dengan sebutan “Kain Sumba”. Kerajinan tenun tersebut penuh hiasan dekoratif yang indah dengan bentuk-bentuk ragam hias yang mempunyai karakteristik tersendiri sehingga menimbulkan kekaguman. Keahlian membuat kain tenun tersebut  mereka peroleh melalui pendidikan praktis di lingkungan keluarga secara turun-temurun.

Bagi orang Sumba, kain yang mereka buat tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk melindungi tubuh dari pengaruh alam saja, tetapi merupakan benda budaya yang mempunyai “makna”, yang mengekspresikan nilai-nilai tertentu dan merupakan kekayaan budaya suatu bangsa. Adapun jenis kain tenun yang mereka buat adalah hinggi (selimut), lau (sarung), tiara (ikat kepala, selendang), dan tamelingu (tudung kepala).

Pada dasarnya proses pembuatan bermacam jenis kain tenun tersebut di atas sama saja. Perbedaannya dalam teknik pembuatan ragam hias. Pada kain hinggi digunakan teknik pembuatan ragam hias yang disebut teknik “ikat”, yaitu suatu teknik pewarnaan benang tenun untuk membuat motif atau gambar tertentu dengan cara mengikatnya sebelum ditenun. Teknik ikat diduga berasal dari Uzbekistan. Kemudian teknik ikat ini dibawa oleh suku-suku bangsa yang berasal dari Kaukasia, Danube, dan Rusia Selatan yang bermigrasi ke arah timur dan juga ke kepulauan Nusantara melalui Szechwan, Yunnan, dan Indocina pada abad ke-7 sebelum Masehi (Loring, 1978:120). Sedangkan ragam hias pada kain lau dibuat dengan teknik “songket”.

Ada bermacam ragam hias yang dibuat pada kain tenun, tergantung pada kemahiran wanita pembuatnya. Motif ragam hias yang umum digambarkan pada kedua bidang akhir hinggi atau bidang bawah lau ialah motif binatang, manusia dan andungu (pohon tengkorak). Untuk bidang tengah hinggi diberi motif tumbuh-tumbuhan, geometris, dan skematis. Sedangkan untuk bidang atas lau umumnya tanpa ragam hias atau hanya garis-garis saja. Kain tenun diberi nama menurut ragam hias yang menjadi hiasan utama dalam kain itu, misalnya hinggi tau (kain manusia), hinggi andungu (kain pohon tengkorak), hinggi kurangu (kain udang), hinggi ruha (kain rusa) dan sebagainya.

Prinsip Struktural
Secara tradisional, kain tenun Sumba dirancang dengan baik dan dihiasi ragam hias yang diatur dalam komposisi harmonis. Kain hinggi terbagi atas dua nai (lirang, separuh kain) yang ditenun tersendiri, kemudian disatukan dan dijahit untuk menjadi sehelai kain. Garis merupakan unsur penting dalam pengaturan komposisi, karena dapat menentukan bidang dan bentuk. Garis-garis itu merupakan garis horizontal yang membagi kain itu menjadi beberapa lajur. Setiap lajur merupakan bidang-bidang yang dihiasi berbagai motif ragam hias. Lajur melintang di bagian tengah kain merupakan bidang pusat (padua). Lajur lainnya, sebelah-menyebelah merupakan bidang akhir (kiku). Garis-garis pada kain tenun dapat berupa garis lurus, lengkung, patah-patah, atau titik-titik.

Keserasian diperoleh dalam menempatkan motif-motif ragam hias yang akan digambarkan, komposisinya diatur secara simetris. Ragam hias yang berbentuk sama pada salah satu bidang akhir digambarkan pula pada bidang akhir lainnya secara berlawanan. Komposisi ragam hias pada kedua bidang akhir umumnya menampilkan bentuk imajiner segi tiga, sedangkan pada bidang pusat menampilkan bentuk imajiner segi empat.

Ketika membuat disain kain tenun ada beberapa prinsip yang secara tetap menunjukkan suatu keseluruhan yang terstruktur. Prinsip-prinsip ini sejalan dengan prinsip-prinsip formal yang juga mengatur segala aspek kehidupan masyarakat Sumba. Prinsip pertama, pengaturan komposisi yang membagi permukaan kain tenun menjadi tiga bidang, yaitu satu bidang pusat dan dua bidang akhir (atas dan bawah) yang berisikan rancangan sama namun terletak pada arah berlawanan secara simetris (dyadic-triadic). Dapat dikatakan bahwa dalam sehelai kain, pada kedua bidang akhirnya terdapat satu pasangan disain yang serupa tapi berlawanan arah, dan ditambah satu bidang pusat yang bersifat “bermuka dua’ (netral, ambivalen). Sifat ambivalen itu menunjukkan bahwa bidang pusat mempunyai hubungan yang sama dengan bidang-bidang lainnya.

Prinsip kedua, prinsip bayangan dalam cermin (mirror image). Untuk busana resmi, khususnya bagi laki-laki, ada dua helai kain yang dikenakan, yaitu yang dikenakan secara horizontal di pinggang, dan yang dikenakan secara vertikal di pundak. Setiap kain akan mempunyai dua muka yang identik, yaitu pada bagian kiri dan kanan. Baik bagian atas maupun bagian bawah akan membentuk setengah lingkaran atau lekukan pada bidang tengahnya, sedangkan disain pada bidang-bidang akhir akan saling berhadapan. Sehingga kedua kain itu, walaupun berbeda cara pemakainnya, tetapi mempunyai karakteristik yang sama. Hal itulah yang dimaksud dengan prinsip bayangan dalam cermin.

Gambar 1 : Prinsip dyadic-triadic dalam desain kain hinggi kombu, menunjukkan hubungan antara bidang tengah (B) dengan bidang-bidang lainnya yang saling berlawanan (A dan C).

Prinsip ketiga, penggunaan angka-angka yang paling disukai masyarakat dalam mengklasifikasikan atau menilai sesuatu. Angka-angka atau bilangan-bilangan itu ialah 2, 4, 8, dan 16 (2 x 8). Bilangan dua mempunyai arti penting dalam konsep bayangan dalam cermin, bilangan empat mempunyai arti penting dalam pengaturan kehidupan sosial, bilangan delapan merupakan bilangan yang dianggap sempurna, terutama segala sesuatu yang berhubungan dengan upacara-upacara keagamaan, dan bilangan enam belas menandakan pada hal-hal yang sangat istimewa (biasanya yang bersangkutan dengan keagamaan, raja, dan alam gaib).

Konsepsi masyarakat Sumba tentang alam semesta menunjukkan hubungan bilangan antara dua kali delapan. Menurut pandangan mereka, langit (alam atas) terdiri dari delapan tingkat yang disebut Awangu walu-ndani, bumi dan laut (alam bawah) terdiri dari delapan lapis yang disebut Tana walu ndawa, sedangkan tanah yang ditempati manusia (alam tengah) merupakan pusat yang disebut Ina tanangu – Ama lukungu.

Gambar 2: Pandangan tentang makro-kosmos, gambaran kedudukan manusia dalam alam semesta. Arah panah menerangkan bahwa bidang tengah (B) mempunyai peran yang sama terhadap bidang-bidang lainnya (A dan C), yaitu sebagai penengah atau perantara.

Bilangan-bilangan yang terdapat dalam kain tenun ialah pada disain yang berpasangan, yaitu pada dua panil yang merupakan bayangan dalam cermin, dan pada empat sudut yang membentuk bidang pada setiap helai kain. Bilangan delapan berhubungan dengan lajur-lajur dan bidang-bidang dari setiap disain. Secara umum, dalam separuh kain hinggi terdapat empat bagian (empat lajur) yang dihiasi ragam hias, yaitu talaba dita (bagian atas), padua (bagian tengah), talaba wawa (bagian bawah), dan tau (badan). Bila ternyata terdapat lebih dari empat lajur,  tetap dianggap  empat lajur saja. Lajur-lajur selebihnya dianggap sebagai bagian padua atau talaba dita. Ragam hias yang digambarkan pada bagian tau merupakan ragam hias utama yang menentukan nama dari kain itu. Bagian talaba dita dan talaba wawa merupakan jalur-jalur pengapit bagian tau. Sedangkan bagian padua merupakan bagian yang terpenting karena mempunyai disain yang ada hubungannya dengan status sosial tertentu atau hal-hal yang dianggap sakral. Bagian padua ini disebut juga kundu duku (bahu pemikul).

Aspek Fungsional
Tujuan utama dari pembuatan kain, baik hinggi maupun lau, ialah untuk dipakai oleh pria atau wanita sebagai alat untuk menahan pengaruh dari sekitaran alam. Akan tetapi, masih ada fungsi lain yang penting artinya bagi kehidupan masyarakat Sumba, yaitu:

  1. Busana Adat
  2. Tanda Hubungan Kekeluargaan
  3. Pembungkus Jenazah dan Bekal Kubur
  4. Harta Benda dan Lambang Status
  5. Alat Tukar Menukar
  6. Barang Hadiah

Tulisan ini pernah dipaprkan pada diskusi dalam rangkain kegiatan Tenun Ikat Sumba: Warisan Budaya Yang Menembus Zaman, Kamis, 17 Oktober 2013, Museum Tekstil Jakarta.

Previous Profil Pemimpin dan Strategi Meraup Massa
Next Kain Tenun Ikat Sumba Sebagai Busana Adat

You might also like

Gaya Hidup

Napak Tilas Kejayaan Batavia

KAWASAN KOTA TUA Napak Tilas Kejayaan Batavia Terletak di kawasan Kota Tua Jakarta, tempat sejarah awal berdirinya Kota Jakarta. Pada awalnya bernama Sunda Kelapa, yang merupakan pelabuhan Kerajaan Pajajaran. Setelah

Etnologi

Pangeran Diponegoro & Masalah Kepemimpinan Nasional

Pangeran Diponegoro & Masalah Kepemimpinan Nasional Pertama. Menurut Prof. Subur Boedhisantoso, “Kelangsungan hidup suatu kelompok sosial – betapapun kecilnya tergantung pada keberhasilannya mempersiapkan generasi penerusnya”. Kedua. Menurut Prof. Carey berdasarkan

Etnologi

PERAN PEMIMPIN NASIONAL: PEMERSATU BANGSA-NYA

PERAN PEMIMPIN NASIONAL: PEMERSATU BANGSA-NYA oleh : S. Budhisantoso Pusat Studi Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Hidup UI Peran utama yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro adalah sebagai perekat sosial (Social Integrative

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply