Herawati Sudoyo: Asal Usul Keanekaragaman Manusia Indonesia

Asal Usul Keanekaragaman Manusia Indonesia

Abstrak

Sejarah hunian pertama manusia modern di kepulauan Asia Tenggara masih tetap menjadi topik perdebatan hangat. Dua model telah digunakan untuk menerangkan migrasi berurutan yang membentuk populasi penghuni Asia Tenggara masa kini.  Temuan arkeologi menggambarkan bahwa Asia Tenggara mulai dihuni oleh manusia modern sekitar 50-70 ribu tahun yang lalu.  Studi genetik yang dilakukan oleh konsorsium HUGO-Pan Asia memperlihatkan bahwa semua populasi Asia Timur maupun Asia Tenggara berasal dari gelombang pertama migrasi “Out of Africa” yang menyusuri jalur selatan sekitar 40-60 ribu tahun yang lalu. Sementara itu, model ‘Out of Taiwan” menerangkan bahwa penyebaran penutur bahasa Austronesia terjadi sekitar 5.000–7.000 tahun yang lalu.

Secara geografis, kepulauan Nusantara memiliki peran penting sebagai penghubung daratan Asia dengan Kepulauan Pasifik. Penduduk Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa dan merupakan kediaman bagi 500 populasi etnik dengan budaya yang sangat beragam. Tingginya keragaman bahasa, etnik, dan budaya ini menimbulkan berbagai macam pertanyaan mengenai asal usul manusia Indonesia:  Siapakah manusia Indonesia? Darimana asal muasal leluhur manusia Indonesia dan kapan mereka mulai mendiami kawasan ini? Karena kita sangat beranekaragam tetapi juga memilki persamaan, apakah ada jejak pembauran? Bagaimana pola persebaran manusia modern Indonesia?

Untuk menjawab berbagai pertanyaan penting itu, kami telah melakukan rekonstruksi dari 50.000 tahun pergerakan populasi manusia Nusantara dalam suatu studi yang melibatkan 70 populasi etnik dari12 pulau menggunakan penanda DNA. Penanda DNA mitokondria terletak di luar inti dan hanya diturunkan melalui garis ibu (maternal).  Hasil studi mtDNA menunjukkan periode hunian awal di kepulauan Nusantara berkisar antara 70-50 ribu tahun lalu. Analisis penanda kromosom Y yang hanya diturunkan dari garis ayah (paternal) memperlihatkan bukti adanya beberapa gelombang migrasi. Kedua penanda genetik ini juga memperlihatkan bukti-bukti adanya pembauran beberapa lelulur genetik. Pembauran makin jelas dengan menggunakan penanda genetik yang ditemukan dalam inti sel, yaitu DNA autosom yang diturunkan dari kedua orang tua. Hasil studi pada populasi etnik yang mendiami Indonesia bagian barat dan timur memperlihatkan gradasi pembauran genetik.

Biodata Singkat

Herawati Sudoyo pada saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi  Molekul Eijkman di Jakarta  dan juga staf pengajar di FKUI.  Hera mendapatkan anugerah Honorary Associate Professor dari Universitas Sydney, Australia.  Ia merupakan anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Komisi Ilmu Kedokteran.

Setelah memperoleh gelar dokter dari FKUI,  Hera kemudian melanjutkan studinya dan gelar Magister Sains dari FKUI.  Ia dianugerahi gelar PhD dalam bidang Biokimia/Biologi Molekul dengan fokus penelitian penyakit akibat kelainan membran trasduksi enerji ,atau yang dikenal sebagai mitokondria, dari Universitas Monash, Melbourne, Australia.

Ia melanjutkan ketertarikannya dalam penyakit membran enerji transduksi disamping penyakit kompleks dan terkait gaya hidup di Lembaga Eijkman dan memperluas kegiatan riset dalam keanekaragaman genetik dan kaitannya dengan ketahanan maupun kerentanan terhadap penyakit.  Kegiatan keanekaragaman genom manusia dan kepakaran dalam penggunaan marka DNA telah  menghasilkan pengembangan laboratorium DNA forensik yang ditujukan untuk keperluan pembuktian ilmiah pengungkapan kasus kriminal. Laboratorium forensik telah menjadi bagian jejaring forensik internasional perdagangan manusia dan juga satwa liar.

Herawati merupakan salah satu pemrakarsa Asosiasi Genetika Manusia Asia Pasifik (APSHG),  anggota dari berbagai perkumpulan internasional seperti PanAsian  SNP  Initiative,  Organisasi Genom Manusia (HUGO),  A-IMBN,  Asia – Pacific Biosafety Association dan lain-lainnya.

Berbagai penghargaan diperoleh baik dari dalam maupun luar negeri seperti Toray Award, TWAS Award, Australian Alumni Award for Scientific Research and Innovation; Habibie  Award untuk Ilmu Kedokteran dan Teknologi,  Wing  Kehormatan dari POLRI dan lainnya.  Beberapa penghargaan juga diterima atas kegiatannya mempromosikan perempuan dalam bidang sains.

Dalam bidang ilmiah, Herawati telah menerbitkan hasil penelitiannya dalam lebih dari 70 publikasi ilmiah internasional yang juga dikomunikasikan dalam berbagai seminar ilmiah maupun publik.

 

Previous Yudi Latif: Pancasila Ideologi Influsif Kemajemukan Indonesia
Next Hilmar Farid: The Challenge of Reform under the Jokowi Presidency

You might also like

KML

[MAKALAH] Koentjaraningrat Memorial Lectures XIII/2017: KEMAJEMUKAN DAN KEADILAN

[MAKALAH] Koentjaraningrat Memorial Lectures XIII/2017: KEMAJEMUKAN DAN KEADILAN Pembicara Pembicara Kunci: Hilmar Farid, Ph.D., Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kemajemukan dan Keadilan. Unduh: KML 2017_Makalah_Hilmar Farid_Kemajemukan dan Keadilan