Kain Tenun Ikat Sumba Sebagai Tanda Hubungan Kekeluargaan

Kain Tenun Ikat Sumba Sebagai Tanda Hubungan Kekeluargaan

oleh : Purwadi  Soeriadiredja

Menurut pandangan masyarakat Sumba, hidup berkerabat atau payiara-palayiangu merupakan ngia parengga la handuka (tujuan tercepat dalam susah), artinya bila dalam kesusahan kepada kerabatlah  dengan segera meminta pertolongan. Memberi sesuatu kepada kerabat tidak dinilai menurut barang yang akan diberikan atau  yang akan diterima. Paling utama memenuhi apa yang dibutuhkan dan tidak ada tawar-menawar. Lalu-lintas barang atau hewan selalu diperhatikan arahnya. Suatu aturan tetap, bila arahnya kepada pihak yiara (keluarga wanita), maka berupa mas perak, kuda, dan kerbau. Sebaliknya, bila arahnya kepada pihak layia (keluarga laki-laki) berupa hinggi (kain selimut), lau (sarung), tiara (ikat kepala), hada (manik-manik), nggedingu (gading), dan wei (babi).

Pada perkawinan, pihak layia akan memberi mas kawin berupa barang-barang mas perak dan hewan. Sebagai balasannya pihak yiara memberi hinggi dan lau, banyaknya tergantung pada kesanggupan dan kemampuan keluarga yang bersangkutan. Ada kalanya sebelum perkawinan dilaksanakan, untuk mengikat persetujuan kedua keluarga, mereka saling memberi kawuku (tanda bukti). Dari pihak keluarga wanita memberi hinggi, lau dan tiara kepada pihak keluarga laki-laki, dan dari pihak keluarga laki-laki akan memberi dua mamuli, dua lulu amahu serta dua ekor kuda.

Pada saat kematian, bila yang meninggal dari pihak yiara, maka pihak layia membawa emas perak, kuda atau kerbau. Bila yang meninggal dan pihak layia, pihak yiara membawa hinggi (kalau yang meninggal laki-laki) atau lau (kalau yang meninggal wanita). Demikian pula dalam mandara (mencari bahan makanan). Bila hendak meminta padi atau jagung ke pihak yiara, maka membawa emas perak. Sebaliknya bila ke pihak layia membawa hinggi atau lau, Demikianlah, bukan saja dalam urusan perkawinan atau kematian, tanda hubungan ini nyata pula dalam hubungan kekeluargaan sehari-hari. Kedua pihak itu selalu saling memberi dan menerima. Bila pihak layia membutuhkan hinggi atau lau, maka dapat memintanya pada pihak yiara, sebaliknya bila pihak yiara membutuhkan mamuli atau hewan, mereka dapat memintanya kepada pihak layia. Tujuan barang-barang dan hewan itu selalu tetap dan tidak dapat ditukar arahnya.

Selain dapat memelihara hubungan kekeluargaan, kain tenun ikat sumba dapat pula digunakan untuk memelihara hubungan baik dengan yang bukan keluarga. Misalnya dalam suatu pesta atau keramaian, tuan rumah ketika membagi sirih pinang atau dalam melayani makan minum para tamu hendaknya memperhatikan kedudukan seseorang dalam masyarakat, yaitu harus disesuikan dengan tingkatan derajat dan tingkatan usia. Apabila terjadi kekeliruan, dan orang yang bersangkutan merasa dihina atau dipermalukan, maka ia akan menuntut atau meninggalkan pesta itu. Untuk memperbaiki kembali keadaan itu, tuan rumah harus ndoku (mengaku salah) dengan memberi sejumlah kain kepada orang yang bersangkutan dan memotong seekor kerbau atau babi. Bila ia tidak melakukan hal itu maka hubungan akan menjadi tidak baik, bahkan dapat putus sama sekali atau mungkin saja ia akan diperlakukan dengan cara yang sama.

Tulisan ini pernah dipaparkan pada diskusi dalam rangkain kegiatan Tenun Ikat Sumba: Warisan Budaya Yang Menembus Zaman, Kamis, 17 Oktober 2013, Museum Tekstil Jakarta.

Previous Kain Tenun Ikat Sumba Sebagai Busana Adat
Next Kain Tenun Ikat Sumba Sebagai Pembungkus Jenazah dan Bekal Kubur

You might also like