Pendidikan Nasional dan Kearifan Timur: Menimbang Paradigma Alternatif dalam Pembentukan Karakter Bangsa

Koentjaraningrat Memorial Lecture X/2013

Pendidikan Nasional dan Kearifan Timur:
Menimbang Paradigma Alternatif dalam Pembentukan Karakter Bangsa

fKoentjaraningrat Memorial Lecture X/2013_anak sekolah

Sebagai bangsa yang menganggap berbudaya timur, pemahaman mengenai Filsafat Timur cukup asing bagi masyarakat. Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya di India, Tiongkok, dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Filsafat Timur merupakan sebutan bagi pemikiran-pemikiran filosofis yang berasal dari dunia Timur atau Asia, seperti Filsafat Cina, Filsafat India, Filsafat Jepang, Filsafat Islam, Filsafat Buddhisme, dan sebagainya. Sebuah ciri khas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama.

Secara umum, Filsafat Timur memiliki paradigma bahwa pendidikan untuk selaras dengan alam, bukan menguasai alam. Berbeda dengan paradigma barat bahwa pendidikan diarahkan untuk bersaing, mengalahkan, dan menguasai alam. Filsafat Barat menjadikan manusia sebagai subjek dan alam sebagai objek sehingga menghasilkan eksploitasi berlebihan atas alam. Sementara itu, Filsafat Timur menjadikan harmoni antara manusia dengan alam sebagai kunci. (Tim Redaksi Driyarkara. 1993. Jelajah Hakikat Pemikiran Timur. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama). Pada pendidikan dasar, sejatinya pengenalan pendidikan timur dapat ditemui pada konsep gotong royong, pelestarian alam, hidup sederhana, dan solidaritas pada martabat manusia (kepentingan umum di atas kepentingan golongan dan pribadi).

Hubungan harmonis manusia dengan alam membuat Filsafat Timur mendidik manusia untuk berkarakter yang sederhana, tenang dan menyelaraskan diri dengan lingkungan. Filsafat Timur menekankan martabat manusia bukan pada dirinya sendiri melainkan ada di dalam solidaritas sesamanya. Harmonisasi dengan alam membuat manusia harus mengerti arti keseimbangan, seperti halnya Ksatria Jawa yang keras, namun harus pintar menari agar mengerti arti kelembutan. Hal ini berbeda dengan Filsafat Barat menganggap bawah kebaikan tinggi dalam hidup adalah dengan bekerja dan bersikap aktif demi persaingan.

Berbagai masalah terjadi pada pendidikan Indonesia, kiranya kita mengerti bagaimana sebaiknya paradigma pendidikan Indonesia. Indonesia telah lama menganggap dirinya adalah bangsa yang berbudaya, beragama, dan bersolidaritas tinggi selayaknya dekat dengan pemahaman Filsafat Timur. Bagaimana relevansi Filsafat Timur pada konsep pendidikan Indonesia ataupun dengan penerapannya? Bagaimana nilai-nilai karakter terbentuk dari pendidikan timur? Lebih dari itu, bagaimana/apakah pendidikan masa depan Indonesia bisa membentuk karakter bangsa?

Forum Kajian Antropologi Indonesia telah mengajak para pembicara dan peseta untuk mendiskusikan mengenai hal ini. Seminar sehari ini diselenggarakan pada Rabu, 15 Mei 2013 di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP, Kampus UI Depok. Diselenggarakan oleh FKAI dan FISIP UI. FKAI konsisten sejak 2006 membahas isu yang berkaitan dengan pembangunan karakter bangsa dan pendidikan karakter. FKAI juga pernah menerbitkan buku ‘Refleksi Karakter Bangsa’ pada tahun  2008 yang berisikan hasil diskusi terbatas dengan para pembicara/pemakalah dan diskusan dalam delapan sektor (ekonomi, pendidikan, kepemudaan/olahraga, hukum, politik, sejarah, agama dan kebudayaan). Kuliah umum Koentjaraningrat Memorial Lectures X/2013 bermaksud membahas kembali filsafat timur sebagai referensi yang penting pada pendidikan karakter ataupun pembangunan karakter bangsa. Hal ini dapat berkaitan dengan program Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo yang mengedepankan Revolusi Mental.

Koentjaraningrat Memorial Lecture X/2013_pembicara

Pembicara dan Makalah

Rumusan oleh Nursamsiah Asharini Moenandar-Rifqy, Msi, Universitas Bina Nusantara (Moderator dan Perangkum) KML X-2013_RUMUSAN

 

Previous Warisan Budaya dan Kearifan Orang Mentawai
Next PANGERAN DIPONEGORO (1785-1855) DAN MASALAH KEPEMIMPINAN NASIONAL

You might also like

KML

Kemajemukan dan Politik Kebudayaan Nasional

Kemajemukan dan Politik Kebudayaan Nasional oleh: Hilmar Farid Bagaimana memastikan agar politik rekognisi dan politik redistribusi bisa berjalan seiring dalam konteks keindonesiaan? Kebijakan budaya macam apa yang harus dimajukan agar

Etnologi

PEMIMPIN NASIONAL SEBAGAI RATU ADIL

PEMIMPIN NASIONAL SEBAGAI RATU ADIL Oleh: S. Budhisantoso Pusat Studi Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Hidup UI Selain tekanan sosial, politik dan keamanan akibat pertikaian internal  kerabat raja, Gangguan keamanan dan

Etnologi

PEMIMPIN NASIONAL: KECERDASAN DAN TAWAQAL

PEMIMPIN NASIONAL: KECERDASAN DAN TAWAQAL Oleh: S. Budhisantoso Pusat Studi Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Hidup UI Dalam pengembangan kepemimpinannya, Pangeran Diponegoro senantiasa mengutamakan kecerdasan daripada emosi dan kepentingan pribadinya. Boleh

2 Comments

  1. Ari Zulkarnaen
    September 10, 07:59 Reply

    iya, jadi teringat buku saku Koentjaraningrat berwarna ungu yang isinya pembangunan moral

Leave a Reply