PANGERAN DIPONEGORO (1785-1855) DAN MASALAH KEPEMIMPINAN NASIONAL

KOENTJARANINGRAT MEMORIAL LECTURE XII/2014
“PANGERAN DIPONEGORO (1785-1855) DAN MASALAH KEPEMIMPINAN NASIONAL”

img_dipenogoro asli

Bulan Maret 2014 lalu, terbit sebuah buku karya sejarawan Peter Carey. Judulnya Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). Penerbitannya di Jakarta dilakukan dalam waktu yang kurang lebih sama dengan edisi Inggrisnya, Destiny: The Life of Prince Dipanegara of Yogyakarta (1785-1855), yang diterbitkan di Oxford. Buku ini, baik edisi Inggris maupun terjemahan Indonesianya, merupakan hasil penulisan ulang dan versi singkat dari buku Carey sebelumnya, The Power of Prophecy: Prince Dipanegara and the End of an Old Order in Java, 1785-1855 (2007 dan 2008), yang pada tahun 2012 diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia sebagai buku tiga jilid yang berjudul Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855.
Salah satu sumber data utama yang digunakan Carey dalam penulisan disertasinya di Cornell University, Amerika Serikat, dan kemudian buku-bukunya tentang Pangeran Diponegoro adalah naskah Babad Diponegoro. Ini adalah naskah otobiografi yang ditulis Diponegoro selama sembilan bulan (Mei 1831-Februari 1832) dalam masa pengasinganya di Manado yang berlangsung selama tiga tahun, 1830-1833. Carey menilai Babad Diponegoro sebagai sebuah mahakarya yang layak disejajarkan misalnya dengan buku catatan Oliver Cromwell, negarawan besar Inggris yang hidup antara abad ke-16 dan 17, atau dengan buku harian deklarator kemerdekaan dan presiden pertama Amerika Serikat George Washington.
Pada bulan Juni 2013, naskah pegon (tulisan Jawa berhuruf Arab) indah setebal 1.151 halaman itu diterima Komite Penasihat Internasional UNESCO sebagai salah satu dari 299 naskah dari seluruh dunia yang sudah dimasukkan dalam Daftar Ingatan Kolektif Dunia (Memory of the World Register). Sayangnya, pengakuan badan dunia ini tidak dibarengi dengan perhatian yang memadai dari Pemerintah Indonesia sendiri terhadap salinan asli naskah bersejarah itu, yang kini berada dalam kondisi tak terawat dan nyaris hancur jadi abu di tempat penyimpanannya di Perpustakaan Nasional.

DIPONEGORO, PERANG JAWA, DAN KEPEMIMPINAN NASIONAL
Pangeran Diponegoro, putra Sultan Hamengku Buwono III dan kakak Sultan Hamengku Buwono IV dari Keraton Yogyakarta Hadiningrat, adalah pemimpin Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830), perang terbesar di Hindia Belanda dalam abad ke-19. Perang Jawa merupakan peristiwa yang menjadi garis batas dalam sejarah Jawa dan sejarah Indonesia umumnya. Itulah masa di mana pertama kali pemerintahan kolonial Eropa menghadapi pemberontakan sosial yang berkobar di sebagian besar Pulau Jawa. Sekitar dua juta orang atau sepertiga dari seluruh penduduk Jawa terpapar oleh kerusakan akibat perang; seperempat dari seluruh lahan pertanian yang ada, rusak, sementara penduduk Pulau Jawa yang tewas sebagai korban perang jumlahnya mencapai 200.000 orang.
Meski akhirnya mampu menumpas pemberontakan ini, Belanda harus membayar mahal kemenangannya tersebut. Mereka kehilangan tak kurang dari 7.000 tentara pribuminya dan 8.000 serdadunya sendiri tewas dalam berbagai pertempuran. Ongkos perang yang harus mereka keluarkan mencapai jumlah 25 juta gulden, setara dengan 2,2 miliar USD sekarang ini.

KOENTJARANINGRAT MEMORIAL LECTURE XII/2014_audience
Menurut Carey, Perang Jawa merupakan peristiwa yang menandai berakhirnya sebuah proses yang mematang sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Kontak-kontak antara Batavia dan kerajaan-kerajaan di Jawa tengah bagian selatan, yang sejak era Serikat Perusahaan Dagang Hindia Timur (VOC), 1602-1799, terjalin di antara para pejabat setingkat duta besar sebagaimana layaknya tejadi di antara negara-negara berdaulat, berubah menuju era “puncak kolonial”, dimana para raja akhirnya menduduki posisi sebagai bawahan atau subordinat terhadap kekuasaan kolonial Eropa.
Beberapa tahun sebelum meletusnya Perang Jawa pada 1825, sejumlah pemberontakan sosial lain telah terjadi akibat semakin menggilanya krisis di daerah pedesaan Jawa. Beberapa di antaranya muncul dengan aroma Ratu Adil. Akan tetapi tidak ada satu pun yang menampilkan figur kuat yang memiliki wibawa besar. Para pemimpin pemberontakan hampir semua berasal dari kalangan orang biasa dan tak memiliki cukup pengaruh untuk mengembangkan gerakan mereka menjadi perlawanan berskala besar dan luas.
Pangeran Diponegoro sendiri mungkin tak tahu menahu tentang adanya tokoh-tokoh lain yang mengklaim sebagai Ratu Adil. Namun, tak lama setelah itu ia sendiri mendengar suara gaib berisi ramalan bahwa ia akan menjadi seorang Ratu Adil. Setelah itu, seolah memenuhi takdirnya, Diponegoro pun muncul dari keremangan Tegalrejo—wilayah di luar Keraton, tempat dimana ia tinggal dan dibesarkan oleh nenek buyutnya—dan berdiri tegak sebagai Ratu Adil yang sejak lama dinanti-nantikan dan berjanji akan memulihkan kejayaan Islam dan peradaban Jawa.
Siapakah sesungguhnya Pangeran Diponegoro? Apa sesungguhnya alasan-alasan di balik gerakan pembangkangan sosial yang dipimpinnnya? Karakter dan kualitas kepemimpianan macam apa yang dimiliki Diponegoro, yang membuatnya mampu menghimpun dukungan luas dari berbagai golongan, mulai dari kaum bangsawan dan santri anti-penjajahan di Jawa tengah bagian selatan sampai kaum para pemimpin lokal di berbagai daerah di sepanjang pantai utara Jawa?
Di tengah kegalauan bangsa ini menghadapi masalah kepemimpinan nasional sekarang ini, barangkali ada manfaatnya kita berefleksi ke masa lampau dan kembali membicarakan sosok Pangeran Diponegoro dan berbagai kualitas pribadinya yang dapat menjadi sumber inspirasi para pemimpin bangsa masa kini.

PEMAKALAH
Pembicara Kunci
Prof. Dr. S. Boedhisantoso, Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Pangeran Diponegoro, Ilmu Sejarah, dan Antropologi KML XI-2014_PAPER_BOEDHISANTOSO_Pangeran Diponegoro Pahlawan Nasional

Pembicara
• Karsono H. Saputra, M.Hum, Program Studi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Pangeran Diponegoro sebagai Manusia Jawa KML XI-2014_PAPER_KARSONO_Pangeran Dipanagara Sebagai Manusia Jawa

• Dr. Bondan Kanumuyoso, Program Studi Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Posisi Pangeran Diponegoro dalam Sejarah Nasional Indonesia KML XI-2014_PAPER_BONDAN_Diponegoro Dalam Sejarah Nasional Indonesia

• Dr. Tony Rudyansyah, MA, Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Diponegoro, Fenomena Ratu Adil, dan Budaya Politik Indonesia: Perspektif Antropologi KML XI-2014_PAPER_TONY RUDYANSJAH_Pangeran Diponegoro sebagai Ratu Adil

• Prof. Peter Ramsay Carey, Ph.D., Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Relevansi Pangeran Diponegoro dalam Wacana Masalah Kepempimpinan Nasional Indonesia Masa Kini KML XI-2014_PAPER_PETER CAREY_Pangeran Diponegoro dan Masalah Kempimpinan Nasional Masa Kini

KOENTJARANINGRAT MEMORIAL LECTURE XII/2014_pembicara

Rumusan oleh Ibu Nursamsiah Asharini, MA RUMUSAN KML XI-2014 Pangeran Diponegoro (1785-1855) dan Masalah Kepemimpinan Nasional

Tempat : Auditorium Gedung X, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
Waktu : Senin, 19 Mei 2014, Pkl 09.00 – 12.00 WIB

PENYELENGGARA
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dan Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI)

Previous Pendidikan Nasional dan Kearifan Timur: Menimbang Paradigma Alternatif dalam Pembentukan Karakter Bangsa
Next Tenun Maluku Tenggara: Evolusi Kain Tenun dalam Komposisi Warna

You might also like

KML2017

Geger Riyanto: Kesenjangan dan Kebencian dalam Relasi antar-Kelompok di Indonesia

  Abstrak Kesenjangan dan Kebencian dalam Relasi antar-Kelompok di Indonesia Dalam presentasi ini, saya ingin berargumentasi bahwa identitas, tradisi, atribut kultural bukanlah warisan paripurna dari masa silam. Ia merupakan representasi

Agenda

Gerakan Antropolog Untuk Indonesia Yang Bineka dan Inklusif

GERAKAN ANTROPOLOG UNTUK INDONESIA YANG BINEKA DAN INKLUSIF Pernyataan Sikap dan Seruan DARURAT KEINDONESIAAN! LATAR Dinamika sosial-politik di Tanah Air akhir-akhir ini diwarnai tindak kekerasan oleh kelompok-kelompok masyarakat yang memaksakan

Etnologi

PEMIMPIN NASIONAL SEBAGAI RATU ADIL

PEMIMPIN NASIONAL SEBAGAI RATU ADIL Oleh: S. Budhisantoso Pusat Studi Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Hidup UI Selain tekanan sosial, politik dan keamanan akibat pertikaian internal  kerabat raja, Gangguan keamanan dan

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply