Koentjaraningrat Memorial Lecture XIV/2017: MASA DEPAN KEBINEKAAN INDONESIA

 

oleh Prof. Dr. S. Budhisantosa, Guru Besar Antropologi (Emeritus) Universitas Indonesia

Semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari kekuasaan kolonial telah berhasil mempersatukan penduduk kepulauan Nusantara menjadi satu bangsa dan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang di proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Keberhasilan perjuangan itu dilengkapi dengan penyusunan Undang-undang Dasar 1945, lengkap dengan landasan filosofi Pancasila.

Kesepakatan politik bersama untuk membangun satu bangsa besar yang meliputi berbagai kelompok sosial-budaya  yang beragam (pluralistik) dan tersebar di kepulauan Nusantara itu mempunyai implikasi sosial budaya harus diatasi. Untuk mengatasi tantangan yang mungkin timbul karena  keberagaman  masyarakat bangsa Indonesia yang baru lahir, keberadaan dan kelangsungan hidup kelompok sosial dan pendukung kebudayaan yang beragam itu dihormati dalam kerangka Kebhinnekaan tunggal ika bangsa Indonesia. Penghormatan terhadap Kebhinnekaan tunggal ika yang ditanamkan dan dikukuhkan melalui proses sosialisasi sejak dini itu akhirnya tumbuh menjadi identitas bangsa (national identity) yang membedakan bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain.

Masa Depan Kebinekaan Indonesia

Berkaitan dengan kelangsungan atau masa depan kebinekaan, atau lebih tepatnya Kebhinnekaan Tunggal Ika, masyarakat Indonesia yang pluralistik dalam hal kesukuan, kemasyarakatan, kebudayaan, keagamaan, serta secara rasial, sesungguhnya tergantung pada kesadaran masyarakat  dan keteguhan mereka dalam menghormati para pahlawan pendiri bangsa yang telah sepakat untuk menerapkan kebhinnekaan tunggal ika dalam memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Kebhinnekaan tunggal ika sebagai landasan persatuan dan kesatuan bangsa itu pada hakikatnya mengacu pada pengertian kebersamaan dalam keanekaragaman sebagaimana makna asli yang diamanatkan oleh Sri Maha Raja Hayamwuruk dalam mempersatukan warganya yang beragam dalam keagamaan dan sitem kepercayaan yang mendominasi pandangan dan tujuan hidup sebagai kawula kerajaan. Pernyataan Sri Maharaja dalam  upaya mempersatukan  kawulanya:  “Tan Hana Dharma Mangrwa, Bhinneka Tunggal Ika Hananira” telah menjiwai semangat persatuan bangsa yang melahirkan bangsa Indonesia yang sejak semula mendambakan persatuan dan kesatuan bangsa diatas keanekaragaman kesukuan, kemasyarakatan, kebudayaan, keagamaan, maupun rasial. Dan sebagai platform bersama adalah semangat kebersamaan yang tertanam sejak awal perjuangan merebut kemerdekaan bersama. Semangat kebersamaan yang berkembang sebagai identiti bangsa itu terus dipupuk dengan perangkat nilai budaya Pancasila yang menjadi landasan filosofi dan dikukuhkan dengan penerapan UUD 1945 di segenap bidang kehidupan nasional.

Semangat Kebhinnekaan tunggal Ika yang menjiwai bangsa Indonesia itu harus dirawat dan dipupuk agar terus hidup dan berkembang sebagai perisai terhadap ancaman yang timbul karena dinamika masyarakat Indonesia maupun pengaruh kebudayaan asing yang tidak mungkin dihindari. Untuk menanamkan semangat kebersamaan yang menjadi indentitas  bangsa, peranan  pendidikan dalam arti luas tidak mungkin diabaikan. Pendidikan untuk membekali kemampuan daya saing generasi penerus dengan ketrampilan kerja dan pengetahuan harus dilandasi dengan pendidikan guna membentuk kepribadian yang kuat sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh keadaan dan pengaruh negatif.

Untuk meningkatkan daya saing, selain  pembekalan kerja dan pengetahuan yang luas dan mendalam, perlu juga ditanamkan pengetahuan sejarah kebangsaan untuk menanamkan kebanggaan sebagai warga bangsa yang besar. Pendidikan kesenian yang menanamkan disiplin, percaya diri, semangat bersaing, dan mengejar keberhasilan dengan kreativitas pembaharuan, dengan penuh perhitungan melihat jauh ke depan. Peranan kesenian sebagai salah satu  manifestasi dan ekspresi kebudayaan bangsa harus terus dipupuk sebagai sarana pembentukan kepribadian dan membangun memupuk  kebanggaan terhadap kebudayaan bangsa yang mencerminkan kebersamaan  bangsa  dalam  Bhinneka Tunggal Ika.

 

Tulisan di atas merupakan rangkuman dari ceramah.

Ceramah lengkap Prof. Budhisantoso ini dapat diunduh di sini

 

Koentjaraningrat Memorial Lectures (KML) merupakan acara kuliah publik antropologi yang diselenggarakan untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa Prof. Koentjaraningrat, perintis dan pengembang pertama antropologi di Indonesia. KML merupakan agenda kegiatan tahunan FKAI yang sudah dilaksanakan sejak lembaga nirlaba ini resmi berdiri pada tahun 2004.

KML ke-XIV ini bukan KML biasa. Kali ini, kuliah umum ini diselenggarakan dalam rangka perayaan 60 tahun antropologi Indonesia sekaligus 60 tahun Jurusan/Departemen Antropologi Universitas Indonesia. KML kali ini digelar sebagai bagian dari acara Homecoming, reuni akbar alumni Jurusan/Departemen Antropologi Universitas Indonesia, yang melibatkan para alumni generasi zaman kampus Rawamangun, tepatnya di FSUI (kini FIB UI), rumah pertama Jurusan Antropologi, hingga generasi mereka yang baru berkuliah dan menjadi sarjana di Departemen Antropologi FISIP UI di kampus Depok ini.

Kuliah Koentjaraningrat kali ini juga luar biasa karena diselengarakan FKAI bersama institusi-institusi dan organisasi-organisasi antropologi lain, yakni Departemen Antropologi FISIP UI, Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), Ikatan Kekerabatan Antropologi UI (IKA UI) dan Himpunan Mahasiswa Antropologi UI (HeMan-UI). Kegiatan ini didukung penuh oleh Yayasan Sjahrir dan Bank Tabungan Negara.

 

 

Previous PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA DAN KEBUDAYAAN
Next Koentjaraningrat Memorial Lectures XV/2018: INTEGRASI NASIONAL DAN ANCAMAN YANG DIHADAPI

You might also like

KML

Hilmar Farid: The Challenge of Reform under the Jokowi Presidency

The Challenge of Reform under the Jokowi Presidency Abstract While it is a cliché to say any reform faces a multitude of challenges that cannot be reduced to one single