Pemimpin Nasional: Perlawanan Pangeran Nuku dari Tidore

Perlawanan Pangeran Nuku dari Tidore

Oleh:
Bondan Kanumoyoso
Departemen Sejarah FIB UI

Kemungkinan untuk mendapatkan untung yang besar dari perdagangan rempah-rempah di maluku berupa cengkeh dan pala merupakan hal yang tidak bisa ditolak oleh para pedagang dari Eropa. Meskipun rempah-rempah dihasilkan di kepulauan Maluku, tetapi para penguasa Maluku sepanjang abad 17 dan 18 bukanlah  pihak yang  paling  memiliki otoritas dalam pengaturan kegiatan perdagangannya. Mereka tidak bisa menegakkan otoritas dalam perdagangan rempah-rempah karena mereka tidak mempunyai kekuatan politik dan militer yang cukup untuk melindungi sumber daya yang berharga ini. Datangnya kekuatan Eropa, terutama Belanda melalui VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie / Maskapai Dagang Hindia Timur), secara pasti telah mengakhiri kemungkinan para penguasa dan pedagang lokal untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dari perdagangan rempah-rempah.

Keberhasilan VOC dalam menegakkan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku ditunjang oleh keunggulan mereka dalam teknologi perkapalan, senjata, dan organisasi. VOC adalah perusahaan dagang modern yang memiliki kekuatan modal yang sangat besar untuk ukuran jamannya. Perusahaan ini juga dibekali dengan hak-hak istimewa, yaitu hak oktrooi, yang diberikan oleh negeri Belanda yang menjadikannya bagaikan negara.6 Penaklukkan Banda pada tahun 1621 dan dilanjutkan dengan pertempuran sengit yang berkepanjangan dalam peperangan Ambon selama paruh pertama abad 17 menandai awal dominasi   VOC   di   Kepulauan   Maluku.   Keberhasilan   VOC   dalam   melakukan   monopoli perdagangan cengkeh dan pala selama kurang lebih 150 tahun merupakan hasil kombinasi yang cermat dari penggunaan kekuatan militer, pengaturan kegiatan perdagangan yang terorganisasi baik, sikap fleksibel terhadap dinamika politik lokal, dan jaringan informasi yang unggul.

Meskipun demikian, dominasi kekuasaan VOC bukan tidak mendapat tantangan. Salah satu tantangan yang paling serius datang dari perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Nuku di akhir abad 18. Nuku adalah seorang pejuang yang tangguh. Ia dilahirkan sebagai seoarang pangeran Tidore (lahir antara 1725-1735), dan wafat sebagai Sultan Tidore pada 1805.7 Perlawanan Nuku terhadap  VOC dipicu oleh ditandatanganinya traktat tahun 1780. Dalam traktat tersebut kesultanan Tidore tidak lagi disebut sebagai sekutu VOC melainkan sebagai vasal.  Status  ini  menyebabkan  Tidore  sejak  itu  memiliki  kedudukan  yang  sama  dengan kesultanan Ternate yang telah diturunkan menjadi vasal sejak tahun 1683. Traktat 1780 dilihat oleh Pangeran Nuku dan para pendukungnya sebagai akhir dari periode Tidore sebagai negara merdeka.

Perlawanan Nuku segera mendapat dukungan dari masyarakat yang ada di wilayah- wilayah pinggiran kesultanan ini. Dukungan kepada Nuku datang  dari  orang papua  di Raja Ampat, Orang Gamrange dari Halmahera Tenggara, dan Orang Seram Timur. Kelompok- kelompok masyarakat ini telah terhubung dengan Tidore selama lebih dari satu abad. Mereka dipersatukan oleh pengalaman bersama dalam perdagangan dan dalam menghadapi dominasi kekuatan kolonial. Nuku tidak melancarkan perlawanannya dari wilayah pusat Tidore. Untuk menghindari penangkapan pasukan VOC, ia berkali-kali berpindah tempat antara Seram Timur, Halmahera, dan Raja Ampat. Selama pelariannya keluar dari pusat Tidore ia harus bertempur menghadapi tiga pusat kekuasaan VOC di Maluku, yaitu di Ternate, Ambon, dan Banda.

Fakta yang sangat menarik adalah bahwa Nuku tidak hanya berperang melawan VOC. Selama masa perlawanannya yang mencakup periode sekitar dua puluh tahun ia juga bertempur melawan rajanya sendiri, yaitu sultan Tidore. Selain itu ia juga berperang dengan Sultan Ternate dan Sultan Bacan. Para penguasa lokal yang berperang dengan Nuku tersebut dapat dikatakan secara militer lebih unggul karena mereka didukung oleh VOC. Tetapi Nuku dapat tetap bertahan dan bahkan beberapa kali mencapai kemenangan karena strateginya yang tepat dalam menggunakan sumber daya yang dia miliki dan dalam memanfaatkan jaringan perlawanan yang dia bangun.

Menurut sejarawan Belanda Haga, Nuku bukanlah pangeran tradisional yang melakukan perlawanan secara konvensional.8 Dalam menggalang perlawanan Nuku berhasil membangun komunikasi yang baik dengan dengan para pengikutnya yang terdiri dari berbagai macam etnis. Komunikasi dengan kelompok multietnis ini tentulah merupakan tantangan yang sulit.Rahasia keberhasilannya adalah kemampuan Nuku dalam memanfaatkan para penerjemah lokal dan di saat-saat tertentu menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca. Lebih jauh lagi Nuku tidak hanya berkomunikasi dengan penduduk yang menjadi pendukungnya, ia juga berusaha menjangkau dunia yang lebih luas melalui cara membuka hubungan dengan orang Inggris.

Perlawanan yang didasarkan pada persekutuan yang mengatasi perbedaan budaya telah membuat Nuku berhasil kembali ke tanah kelahirannya. Ia meninggalkan Tidore dengan mendapat cap sebagai pemberontak dari VOC, tetapi ia dapat kembali dan bahkan menjadi sultan tanpa perlwanan yang berarti. Lebih jauh lagi Nuku bisa membangun Tidore sebagai kesultanan yang terkuat mengungguli kesultanan-kesultanan lainnya di Maluku.

Photo: http://cultureart-indonesia.blogspot.co.id/2013/09/nuku-muhammad-amiruddin-sultan-nuku.html

Previous Diponegoro Dalam Sejarah Nasional Indonesia
Next Pemimpin Nasional: Imam Bonjol dan Gerakan Padri

You might also like

KML2017

[PERUMUSAN] Koenjaraningrat Memorial Lectures XIII/2017: KEMAJEMUKAN DAN KEADILAN

PERUMUSAN KML 2017_Perumusan “Kebhinekatunggalikaan”, dan “Keindonesiaan kita” tidak berada dalam ruang hampa.  Dalam seri KML kali ini kita ingin melihat lebih dalam lagi apakah pluralisme kultural atau spirit yang menganggap 

Agenda

Herawati Sudoyo: Asal Usul Keanekaragaman Manusia Indonesia

Asal Usul Keanekaragaman Manusia Indonesia Abstrak Sejarah hunian pertama manusia modern di kepulauan Asia Tenggara masih tetap menjadi topik perdebatan hangat. Dua model telah digunakan untuk menerangkan migrasi berurutan yang

Etnologi

BETAWI PUNYE GAYE “Inspirasi Kebudayaan Jakarta Asli”

 “BETAWI PUNYE GAYE” Inspirasi Kebudayaan Jakarta Asli Orang Betawi yang dianggap sebagai penduduk asli Jakarta adalah masyarakat dan kebudayaan yang merupakan hasil asimilasi berbagai bangsa dan budaya, termasuk Cina, Arab,

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply