PERUBAHAN IKLIM DAN ANTISIPASI PERILAKU BUDAYA UNTUK MASA DEPAN


Latar Belakang

Dewasa ini ilmu-ilmu alam seperti oseanografi, ekologi, geografi, geofisika hingga klimatologi di seluruh dunia bergelut dengan masalah perubahan iklim dan dampaknya terhadap keberlangsungan bumi. Sebetulnya disiplin antropologi tidak asing terhadap persoalan relasi sosial manusia dan alam termasuk strategi  terhadap iklim yang mempengaruhi karakteristik kebudayaan. Bahkan arkeologi, antropologi fisik, dan paleoantropologi pun sudah menjelaskan faktor-faktor iklim yang mempengaruhi evolusi biologis dan penyebaran manusia ke seluruh muka bumi. Musnahnya kebudayaan-kebudayaan tertentu sudah pernah terjadi. Meski demikian, kepunahan seluruh peradaban tidak pernah dianggap akan terjadi sampai kemudian bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa kualitas bumi sebagai penunjang kehidupan merosot drastis. Kepedulian terhadap nasib bumi muncul dari kerisauan pada polusi industri serta terus meningkatnya suhu bumi. Meskipun gerakan pro-lingkungan sudah mulai muncul di Eropa dam Amerika pada awal abad ke-20, kesadaran global tentang lingkungan hidup yang terus merosot baru dimulai tahun 1970-an, ketika polusi udara dan air meningkat drastis dan terjadi penipisan ozon, terutama di belahan bumi utara. Dalam kurun waktu ini pula PBB membuat daftar spesies-spesies yang musnah dan usaha konservasi mulai jadi agenda internasional. Pada tahun 1985 ditemukan lubang ozon di antartika, dan pada 1987 ditemukan lubang kedua di kutub utara. Semenjak 1990-an ulangtahun bumi pada 22 April mulai selalu diperingati. Apakah ini proses menuju kiamat?

Kiamat versi kitab suci memang hanya menjadi rahasia Tuhan. Namun kiamat bumi akibat bencana ekologis sebetulnya  bukan hal baru. Hasil riset paleontologi bahkan menunjukkan bahwa bumi sudah mengalami kepunahan massal sebanyak lima kali akibat perubahan iklim ekstrem. Diperkirakan, dalam setiap periode “kiamat” itu  70-75 persen spesies musnah. Kepunahan massal terakhir, yang terjadi beberapa puluh juta tahun lalu, membunuh hampir seluruh spesies reptilia besar, menyisakan reptilia kecil yang kelak berevolusi menjadi burung dan mamalia kecil berdarah panas. Apa yang membunuh dinosaurus adalah kenaikan suhu 5°C selama 100.000 tahun akibat meteor besar menghantam bumi pada 66 juta tahun silam. Perubahan iklim bumi adalah kontinuitas alami akibat dari gerak alam semesta. Dalam hitungan ratusan juta tahun, bumi yang sudah berusia 4,5 milyar tahun ini mengalami episode zaman es global, kenaikan temperatur ekstrem, pembentukan dan pengurangan daratan, serta punahnya sepesies-spesies lama dan lahirnya spesies-spesies baru.

Pada Kala Anthropocene[1] atau masa kini, perubahan iklim mendapat percepatan signifikan karena manusia dan peradabannya memodifikasi lingkungan lebih daripada spesies lain. Dampak manusia terhadap lingkungan atau dampak antropogenik terhadap lingkungan mencakup perubahan lingkungan dan ekosistem biofisik, keanekaragaman hayati, dan sumber daya alam yang disebabkan langsung oleh perilaku manusia, termasuk pemanasan global, degradasi lingkungan, kepunahan massal dan hilangnya keanekaragaman hayati, krisis ekologis, dan keruntuhan ekologis.  Proses merosotnya kualitas kehidupan dan sekaratnya bumi terjadi dalam gerak lambat, tidak terasa panca indera manusia dan tidak tercatat dalam peradaban yang memang berdetak lebih cepat. Kalaupun perubahan-perubahan itu tercatat, manusia melakukannya secara parsial. Perlahan ilmu pengetahuan mulai memahaminya ketika berhasil memadukan sejumlah besar data (big data) misal data cuaca dari arsip-arsip tua berbagai penjuru bumi, data panen, data banjir, data El Nino, La Nina sekitar 25-30 tahun yang lalu. Namun persoalan ini hanya jadi pembicaraan para ahli atau perhatian aktivis lingkungan. Usaha edukasi publik dan kerjasama-kerjasama internasional untuk mencegah memburuknya iklim terutama pemanasan global karena pelepasan emisi karbon akibat bisnis industrial dimulai terlambat.

Baru pada 1989 masalah iklim menjadi pembicaraan internasional di PBB melalui Intergovernmental Panel in Climate Change yang kemudian melahirkan serangkaian kesepakatan seperti Rio Earth Summit (1992), Kyoto Protocol (1995), dan seterusnya, sampai kepada Paris Agreement (2015) yang melahirkan kesepakatan global untuk menjaga agar suhu dunia tidak naik sampai 2°C sebagai batas tertinggi. Saat ini suhu global sudah naik 1°C dari suhu global pada masa pra-industri (tahun 1850-an). Berdasar hasil penelitian terkini, kenaikan sampai 1,5°C akan terjadi pada tahun 2030 jika tidak ada aksi nyata. Pada titik itu kepunahan spesies, banjir, gelombang panas, badai ekstrim sudah akan dimulai namun masih dapat diperbaiki jika dunia mengurangi emisi karbon sampai 45 persen (IPCC 2019) . Jika kenaikan terlanjur mencapai 2 derajat maka segala tindakan perbaikan tidak akan berguna dan dipastikan bumi memasuki kiamatnya yang ke-6. Kiamat akan dimulai ketika arus laut melambat di suhu kenaikan global 2°C yang akan membunuh plankton sebagai rantai makanan terbawah. Gambar yang lebih jelas dan menakutkan bahwa bumi sedang menuju kematiannya dengan laju percepatan yang luar biasa bisa kita lihat film dokumenter Al Gore The Inconvenient Truth.

Antropologi dan Perubahan Iklim

Antropolog memang tidak lazim menggunakan data-data iklim numerik—dipastikan mereka tidak berambisi menjadi ilmuwan iklim—namun melalui narasi tentang praktik kultural manusia, metafora kosmologis, kalender musim, bencana, ritual dan simbol ilmu ini berbicara perubahan iklim secara tidak langsung dalam tingkat mikro. Baru pada kurun 1990-an antropolog Steve Rayner (Rayner dan Malone 1998) dan Mary Douglas (Douglas et al., 1998) serta arkeolog Carol Crumley (1994) dan Brian Fagan (2000) meletakkan dasar untuk antropologi perubahan iklim. Sejak itu, bidang antropologi ini berkembang menjadi upaya yang beragam dan kuat yang dicontohkan oleh empat perspektif: (1) ekologi budaya; (2) interpretatif budaya; (3) perspektif antropologis kritis; dan (4) perspektif antropologi terapan. Untuk studi di Indonesia layak disebut nama Prof. Yunita Winarto, yang  selama 20 tahun secara konsisten melakukan studi tentang pengetahuan dan strategi petani kultural, petani-petani di Jawa dan beberapa kawasan di Asia Tenggara, dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dengan perspektif ekologi-budaya. Namun demikian, kita masih memerlukan pandangan antropologi yang juga mempersoalkan struktur politik ekonomi sebagai sebagai kontributor terbesar dalam akselerasi perubahan iklim.

Laju Bisnis Sumberdaya Alam dan Tantangan Perubahan Iklim

Dalam menghadapi perubahan iklim global, mengubah perilaku manusia untuk dapat berstrategi dengan perubahan yang sukar dirasakan bukan persoalan mudah. Jejak-jejak kerusakan memang terlihat jelas bagi populasi yang sangat terancam seperti warga pulau-pulau kecil terutama di Pasifik, atau petani yang merasakan imbasnya pada ketidakakuratan kalender iklim warisan nenek moyang. Namun, untuk sebagian besar orang arah kehancuran tidak terasa. Pemanasan global terkadang diikuti dengan musim dingin yang ekstrem, sehingga banyak orang tidak percaya bahwa bumi sedang memanas secara gradual. Kita yang terbiasa bernafas di ruang-ruang dengan air conditioner mungkin tidak percaya bahwa bumi makin panas.

Perilaku bisnis yang cenderung merusak alam adalah ancaman terbesar terhadap dunia modern atau bumi pada Kala Anthropocene ini.  Pengetahuan tentang bahaya gas emisi rumah kaca sebagai penyebab pemanasan global sudah beredar sejak lebih dari 20 tahun lalau dan dikampanyekan di mana-mana. Namun, keputusan untuk lebih berani membela bumi seringkali dikalahkan oleh kepentingan politik dan bisnis, dengan pembelaan bahwa investasi untuk energi ramah lingkungan dan terbarukan masih terlalu mahal. Bahkan, perlindungan kepada bisnis-bisnis energi konvensional masih terus dilakukan lewat kebijakan-kebijakan politik nasional di berbagai negara. Tentu, ada usaha-usaha internasional untuk menyelamatkan bumi. Dunia menyepakati bahwa pada tahun 2010 hutan tropis akan terlindung dengan skema REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation + carbon stock enhancement and forest conservation).  Tujuan: menghitung nilai dari karbon yang tersimpan di hutan, serta menawarkan insentif bagi negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi dari lahan hutan dan tertarik untuk berinvestasi di jalur rendah karbon dalam rangka pembangunan berkelanjutan lewat pendanaan internasional antar negara yang memiliki hutan tropis.  Dalam bahasa sederhana, negara kaya membayar negara berkembang untuk menjaga hutan. Namun hal ini menjadi perdebatan pro-kontra serta diragukan tingkat keberhasilannya. Kritik terhadap REDD+ adalah skemanya yang mementingkan bisnis penjualan karbon (carbon offset) daripada melindungi bumi. Lalu, skema ini dianggap tidak menyentuh sumber masalah sebenarnya yaitu emisi besar yang tetap dihasilkan dari bisnis daging, kopi, minyak sawit dan biofuel.  Belum lagi skema ini dibangun dari perspektif elite bisnis yang tidak menyertakan secara penuh kemampuan masyarakat lokal sekitar hutan sebagai penjaga ekosistem hutan di garis depan dengan kearifan lokal yang layak mendapatkan kompensasi besar. Di tingkat lokal, implementasi REDD+ memang bermasalah karena menjadi obyek baru korupsi, distribusi kompensasi tidak merata, pembayaran kecil, serta birokrasinya yang rumit (Rochmayanto, 2013).  

Di berbagai wilayah potensial (Aceh, Riau, Kalimantan), REDD+ masih dianggap gagal karena laju deforestasi tetap tinggi termasuk kebakaran hutan di seluruh kawasan tropis Indonesia. Hal ini membuat investasi dana internasional yang sudah disepakati dengan Norwegia sebesar 1 miliar dollar AS terhambat.  Dalam kondisi hutan tropis yang kian memburuk, komoditas non-hutan, seperti sawit, lebih terlihat menjanjikan karena ekspornya dapat mendatangkan dana sebesar 18,9 miliar dollar AS per tahun (Shibao, 2015). Pada 2019 produksi sawit Indonesia diperkirakan berjumlah 43.000 ton atau naik 3,61 persen dari tahun sebelumnya, mejadikan kita sebagai penghasil sawit terbesar dunia. Tanaman kopi, yang juga tengah naik daun di Indonesia dan dianggap cocok untuk agroforestri, juga menyimpan masalah untuk masa depan hutan. Produksi kopi mengubah ekosistem hutan hujan yang berdampak negatif pada spesies tanaman dan hewan yang hidup di dalamnya. Di seluruh dunia, penggunaan produksi kopi monokultur mengarah pada deforestasi, erosi tanah, dan polusi air.  Sementara sumbangan nyata komoditas hasil hutan non-kayu tropis secara ekonomi sangat kecil dengan akses pasar dan penyerapan industri sedikit. Pada saat sekarang, sumbangan terbesar dari hutan tropis berupa jasa lingkungan bagi manusia melalui penyediaan air, udara, keanekaragaman hayati dan plasma nutfah yang sebetulnya tidak tergantikan belum rela untuk dikonversi menjadi nilai ekonomi strategis dan keamanan yang sangat mahal. Emisi adalah currency terkini yang berdampak pada peningkatan gas rumah kaca serta kenaikan suhu yang selalu dihasilkan dari sebuah bisnis skala besar yang bahkan sudah bekerja sangat hati-hati. Sekalipun korporasi batubara,  kopi atau sawit sudah bertindak sangat bertanggung jawab terhadap polusi dan limbah, mereka tetap sebagai penghasil emisi yang besar.

Peran-peran untuk Masa Depan

Melalui kuliah umum ini FKAI ingin mengajak kita semua untuk bersikap optimis. Perilaku yang menyelamatkan bumi saat ini diadopsi oleh anak-anak muda. Mereka adalah  konsumen yang mulai dituntut untuk melakukan daur ulang untuk segala produk. Gaya hidup baru yang dianggap ramah lingkungan semakin digiatkan lewat iklan di mana-mana. Generasi Z yang lahir di rentang 1995-2015 dianggap sebagai konsumen aktif yang sudah mendapatkan kesadaran untuk menjaga nasib bumi. Mereka mulai membawa ke mana-mana botol minuman sendiri, juga membawa sedotan sendiri karena sudah dibiasakan di sekolah-sekolah semenjak TK. Mereka lebih memilih transportasi umum atau daring daripada mobil pribadi yang merepotkan. Masalahnya, mereka seakan dipaksa untuk bertanggungjawab terhadap keselamatan bumi sementara pada saat yang sama menyaksikan betapa plastik masih diproduksi secara massal oleh bisnis-bisnis besar, termasuk bisnis ptoduksi air mineral kemasan. Kondisi laut yang penuh sampah plastik dan tidak adanya tindakan penyelamatan dari negara maupun korporasi adalah realitas yang kita semua hadapi. Generasi orang tua mereka kemungkinan hidup dan mendapat kemewahan dari ekstraksi sumberdaya alam, hutan dan kebun. Namun Generasi Z belajar untuk berbisnis rendah emisi. Mereka merupakan digital native yang akan mengakumulasi kapital lewat bisnis informasi (big data) transnasional.Kemunculan para aktivis muda belia (usia 15-20 tahun) seperti Greta Thunberg dalam kancah perjuangan membela bumi sudah terjadi di beberapa negara termasuk India, Indonesia, Afrika dan akan terus bermunculan. Mereka yang lebih mengkhawatirkan bumi daripada kericuhan politik nasional di negara masing-masing akan semakin banyak dan menggugat. Kemungkinan merekalah yang kelak menjadi Guardian of The Earth.

Koentjaraningrat Memorial Lectures kali ini  ingin mempertemukan pendapat-pendapat dan mencari antitesis-antesis dari paradoks kehidupan modern dalam hal keselamatan bumi. Di masa yang tidak terlalu lama Indonesia semakin membutuhkan strategi menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin interdisipliner dan melibatkan lebih banyak ahli ilmu sosial (di luar ekonomi yang sudah banyak), misalnya arkeolog, antropolog, ahli geografi manusia, sosiolog, dan ahIi ilmu politik yang bersinergi dengan ilmuwan alam dan ilmuwan teknologi informasi. Tentunya melibatkan generasi muda belia.

Sejak awal, Koentjaraningrat Memorial Lecture selalu membawa semangat FKAI sebagai penyelenggaranya untuk menjadikan kepentingan nasional sebagai “ideologi”. Melalui Koentjaraningrat Memorial Lecture kali ini kami ingin mencoba merumuskan kontribusi yang dapat diberikan antropologi dalam memahami proses perubahan iklim yang dihasilkan dari penelitian etnografis klasik tentang hubungan manusia dan alam yang sudah ada. Kontribusi tersebut setidaknya mencakup empat hal, yakni:

  1. Antropologi melihat proses perubahan iklim dari nilai-nilai (values) termasuk relasi politis dalam pembentukan pengetahuan tentang iklim. Respons berupa  tindakan-tindakan antropologenik yang melahirkan bencana, tindakan mitigasi,  usaha-usaha adaptif tergantung pada intepretasi nilai-nilai dan relasi politik yang Iada pada satuan kelompok masyarakat dari skala kecil hingga negara.
  2. Antropologi dapat melihat kembali catatan-catatan etnografi klasik terutama uraian-uraian sejarah sosial yang tentu mengarah pada perubahan lingkungan, dan ekologi. Catatan ini dapat dikaitkan dengan temuan arkeologis, dan menyumbang pada perdebatan kontemporer tentang perubahan iklim global hari ini.
  3. Antropologi dengan metode  perspektif holistik dan ingin memahami gambaran luas tentang dinamika masyarakat turut mencatat perubahan-perubahan di empat lapisan: kultural, sosial, ekonomi, dan politik di masyarakat. Dalam tingkat analisis ini, perubahan iklim dipahami komprehensif dan dapat dapat menyumbang pada tingkatan kebijakan untuk menyelamatkan bumi.
  4. Antropologi adalah penafsir budaya, penerjemah pesan yang menjembatani lintas disiplin keilmuan termasuk membuka jalan terapan untuk memperkuat aktivisme dan kebijakan di bidang penyelamatan bumi.

Beberapa pertanyaan besar yang penting untuk didiskusikan dalam makalah dan tanya jawab yang dipandu moderator (tentu tidak usah semua disampaikan pemberi kuliah) adalah:  

  1. Saat ini, siapakah aktor-agen yang terlibat dalam pembentukan dan produksi pengetahuan tentang perubahan iklim global serta bagaimana proses ini membentuk pemahaman kita?
  2. Bagaimana menempatkan urgensi perubahan iklim global dalam bisnis sumberdaya (pertambangan, kehutanan, perkebunan) sebagai kontributor ekonomi nasional sekaligus penghasil emisi terbesar?
  3. Bagaimana penyebaran pengetahuan iklim tersebar melalui berbagai agen seperti komunitas ilmiah, pemerintah, lembaga internasional dan korporasi? Bagaimana pesan-pesan diterjemahkan untuk generasi sekarang?
  4. Bagaimana strategi adaptasi dan mitigasi yang pernah ada dalam proyek-proyek pembangunan terdahulu? Apa yang dapat dipelajari dari masa lalu untuk masa depan?
  5. Bagaimana usaha-usaha mencegah efek gas rumah kaca melalui restorasi ekosistem tetap dapat dilakukan tanpa memarjinalkan masyarakat sekitar hutan tropis?
  6. Bagaimana Revolusi 4.0 dapat berperan dan mengambil peluang dalam mitigasi menghadapi bencana iklim?

PEMBERI KULIAH

  • Dr. Kartini Sjahrir  (Penasihat Senior bidang Perubahan Iklim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia)

Antropolog. Duta besar Indonesia untuk Argentina, Uruguay, Paraguay (2010-2014). Menjadi penasihat senior dalam isu perubahan iklim di Kemenko Kemaritiman dan Investasi. Memberi paparan tentang seberapa bahaya perubahan iklim global dan bagaimana antisipasinya dalam kebijakan-kebijakan.

  • Nur Hayati (Direktur Eksekutif, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)

Aktivis lingkungan hidup yang diharapkan menyampaikan gambaran aktual tentang kondisi lingkungan di Indonesia dikaitkan dengan aktivitas korporasi SDA (di bidang kehutanan, perkebunan, pertambangan) dalam konteks ancaman perubahan iklim global

PEMBAHAS

  • Iwan Pirous (Forum Kajian Antropologi Indonesia, Gaia), peneliti yang sedang bekerja pada isu perhutanan sosial, konservasi, tenurial, dan gerakan sosial.

WAKTU DAN TEMPAT

Kamis, 28 November 2019, Pukul 09.00 – 12.00 WIB

Auditorium Gedung X Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (FIB-UI)


[1] Skala waktu geologis terbagi atas Eon (Kurun), Era (Era), Period (Periode), Epoch (Kala/Zaman). Anthropocene (Antroposin) terletak pada posisi kurun Phanerozoic, Era Cenozoic, Periode Quarternary, Zaman Pleistocene – atau dapat dipahami sebagai “zaman sekarang” bagi Homo sapiens yang pertama kali muncul 200.000 tahun lalu. Antropolog dan geolog hari ini masih belum tuntas menyusun titik awal dari segi peristiwa maupun sedimen geologis untuk menetapkan tanggalnya. Percepatan kerusakan bumi karena ulah manusia menjadi alasan mendesak mengapa Antropocene harus segera masuk dalam skala waktu geologis. Meskipun hal ini sebuah usaha sulit karena waktu geologis adalah skala waktu terpanjang (dimulai 4,5 milyar tahun lalu). Kebanyakan ahli setuju bahwa Revolusi Industri (1850) adalah permulaan Anthropocene. Sebagian ahli menginginkan waktu lebih kini seperti percobaan bom atom pertama (1945), atau lebih awal yaitu 12.000 tahun lalu ketika Homo sapiens menemukan agrikultur.

Previous Nilai Integrasi Nasional Indonesia 8
Next Koentjaraningrat Memorial Lecture XVI/2019 : PERUBAHAN IKLIM DAN ANTISIPASI PERILAKU BUDAYA UNTUK MASA DEPAN

You might also like

KML

Nilai Integrasi Nasional Indonesia 8

Oleh ADHI KUSUMAPUTRA 19 Oktober 2018 · 17:50 WIB KOMPAS/HERU SRI KUMORO Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Heddy Shri Ahimsa-Putra menyampaikan kuliah publik antropologi Koentjaraningrat Memorial Lecture XV/2018

Etnologi

PEMIMPIN NASIONAL SEBAGAI RATU ADIL

PEMIMPIN NASIONAL SEBAGAI RATU ADIL Oleh: S. Budhisantoso Pusat Studi Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Hidup UI Selain tekanan sosial, politik dan keamanan akibat pertikaian internal  kerabat raja, Gangguan keamanan dan

KML2017

Herawati Sudoyo: Asal Usul Keanekaragaman Manusia Indonesia

Asal Usul Keanekaragaman Manusia Indonesia Abstrak Sejarah hunian pertama manusia modern di kepulauan Asia Tenggara masih tetap menjadi topik perdebatan hangat. Dua model telah digunakan untuk menerangkan migrasi berurutan yang

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply