Tenun Maluku Tenggara: Evolusi Kain Tenun dalam Komposisi Warna

Gelar Karya Samuel Wattimena

Tenun Maluku Tenggara:
Evolusi Kain Tenun dalam Komposisi Warna

 Tenun Maluku Tenggara: Sebuah Evolusi Kain Tenun dalam Komposisi Warna_Samuel watimena

 

“Mimpi saya sederhana. Mereka yang mempunyai keahlian menenun sebaiknya dimaksimalkan. Ini karunia Tuhan. Jika sudah mampu melakukan itu, dan mendapatkan masukan-masukan secara profesional, tapi kemudian tidak dipraktikkan dan hidup berkekurangan, jangan salahkan takdir. Tidak semua orang harus jadi insinyur atau dokter. Saya melihat di Indonesia Timur penenun adalah emas. Di seluruh dunia, tidak ada negara lain yang memiliki kekayaam seni tenun seperti Indonesia,” papar Samuel Wattimena.

Sami lahir di Jakarta, 25 November 1960. Pria yang dikenal banyak memiliki ide kreatif ini, memulai karier di bidang fashion pada tahun 1979, kеtіkа ia menjadi juara pertama Lomba Perancang Mode dі Jakarta. Dia aktif menangani busana untuk berbagai artis musik, teater, orchestra juga film. Tahun 1995, ia dipercaya merancang busana Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di zaman Presiden Soeharto.

“Sudah sејаk tahun 1985 saya memberdayakan masyarakat untuk  merevitalisasi kain tenun tradisional di seluruh Indonesia. Saya memberi masukan-masukan soal pewarnaan kepada para penenun khususnya di Kepulauan Maluku Tenggara (Maluku Tenggara Barat), Timor Timur, serta berbagai provinsi di Indonesia. Kegiatan tersebut membuahkan penghargaan Upakarti dari Negara yang diberikan oleh Presiden Soeharto,” ujar Sami di rumahnya di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Penghargaan lain yang ia terima adalah pin emas dari Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan RI pada tahun 2013. Pada tahun yang sama, ia juga mendapatkan penghargaan sebagai desainer terbaik se-kepulauan pasifik dengan menampilkan berbagai kain tradisional Indonesia dan itu merupakan kebanggaan Sami karena kehadiran kain tradisional terbukti mendapatkan pengakuan masyarakat internasional.

Untuk acara Gelar Karya Samuel Wattimena ini Sami telah menyiapkan koleksi busana yang diinspirasi oleh kain tenun Maluku Tenggara. “Tenun ikat Maluku Tenggara merupakan tenun khas Maluku yang telah diwariskan turun temurun. Namun, bak tergilas perkembangan zaman, ia kini berada dalam kondisinya antara hidup dan mati. Saya berharap melalui acara ini nilai-nilai sosial dan kebudayaan yang tercermin lewat motif tenun ini kembali tumbuh. Dalam beberapa tahun belakangan ini saya mencoba meningkatkan kualitas dan mengembangkan variasi tenun di Maluku Tenggara, agar ia dapat menjadi sumber pendapatan dan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat setempat,” kata Sami lagi.

Menurut Sami, para penenun kain tradisional atau adat tetap harus bekerja berdasarkan pakem yang sudah baku. Tidak boleh asal mengubah. “Ketaatan pada pakem menjadikan hasil tenun mereka bernilai komersial rendah, meski nilai adatnya tinggi. Rendahnya nilai komersial tersebut karena seseorang akan merasa sudah cukup jika telah membeli sehelai kain adat. Sebaliknya, kain tenun yang dibuat untuk tujuan komersial akan terus dibeli orang karena warna dan komposisinya berbeda-beda dan terus berkembang.dari masa ke masa.

“Namun, para penenun kain adat ini tidak boleh disisihkan. Merekalah pembawa identitas masyarakat dan kebudayaannya. Kain-kain tenun yang mereka hasilkan adalah cerminan kebudayaan kita. Karenanya, tidak boleh diabaikan.”

Menurut Sami, di Maluku Tenggara budaya tenun ikat meru­pakan kekayaan yang berasal dari buah pikiran, rasa, serta karya ma­syarakat yang tidak akan pernah punah bila dilestarikan dan dikem­bangkan, khususnya di kalangan gene­rasi muda. “Inilah salah satu kekayaan sebenarnya dari masyarakat Maluku Tenggara, yang nantinya bisa dinikmati hingga generasi anak-cucu kedepan,” papar Sami.

Salah satu masalah dalam usaha pengembangan tenun Maluku Tenggara adalah belum terciptanya pasar yang mampu menyerap produk-produk yang dihasilkan para penenun Maluku Tenggara. Masalah lainnya adalah belum terjaminnya pasokan benang, bahan baku utama yang duperlukan para penenun. “Sudah sejak tahun 1985 saya sampaikan kepada Kementerian Perindustrian, perlu adanya agen yang mendekati lokasi para penenun sehingga harga produksi kain tenun dari daerah Timur mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.”

Sami berharap, kegiatan ini dapat membuka pintu bagi tenun ikat Maluku Tenggara untuk masuk ke pasar busana dan gaya hidup nasional, bahkan internasional. “Yang terpenting adalah mengusahakan agar kain tenun Maluku Tenggara dapat memenuhi selera pasar dengan memperhatikan warna, letak motif pada kain, kualitas tenun, dan memperthitungkan harganya dengan baik agar tetap terjangkau.

“Saya optimis dengan adanya kegiatan ini kain tenun ikat Maluku Tenggara akan maju. Tentu saja asalkan usaha pengembangan ini didukung penuh oleh lembaga negara terkait. Saya tidak bisa bekerja sendiri. Tanpa dukungan dari banyak pihak, usaha yang telah lama saya bina ini bisa menjadi sia-sia,” ujar Sami.

Menurut Sami, siapapun yang ingin memasuki gaya hidup yang baru, ia harus melakukan penyesuaian. Jika awalnya kita menenun kain hanya untuk orangtua, tetangga, dan hanya karena tuntutan tradisi, sekarang kain harus dikeluarkan dari kebutuhan tersebut. Gaya hidup tidak akan terjadi jika kita  menutup pasar.

“Kebudayaan itu harus bergulir. Setiap era harus memiliki identitas. Evolusi saya lakukan awalnya hanya pada warna, kemudian pada benang, layout, dan akhirnya pada fungsi. Semula kain hanya berfungsi sebagai kain bawahan. Sekarang, saya kembangkan fungsinya juga sebagai stola yang penggunaannya bisa lebih universal serta bahan pakaian pria dan wanita. Saat ini saya juga mulai membuat printing motif tenun Maluku Tenggara di atas kulit ular untuk kebutuhan produksi berbagai tas dan perlengkapan bagi wanita dan pria. Nah itulah hal-hal yang saya lakukan untuk evolusi tenun Maluku Tenggara.”

Kegiatan Gelar Karya Samuel Wattimena ‘Tenun Maluku Tenggara: Sebuah Evolusi Kain Tenun dalam Komposisi Warna’ diselenggarakan di Museum Tekstil Jakarta selama dua pekan, 12-19 November 2014. Kegiatan ini menampilkan berbagai koleksi tenun Tanimbar dan karya yang telah dimodifikasi sesuai dengan penggunaan fesyen masa kini. Acara tersebut diisi oleh acara pembukaan yang dibuka oleh Menteri Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Ibu Puan Maharani dan disemarakkan oleh fashion show penggunaan bahan dan motif tenun Tanimbar. Di luar itu ada pula dua temu wicara yang mendiskusikan Kebudayaan dan Kain Khas Tanimbar, dan Kreasi Tenun.

Previous PANGERAN DIPONEGORO (1785-1855) DAN MASALAH KEPEMIMPINAN NASIONAL
Next Batik Lasem, Tiongkok Kecil dan Cerminan Masyarakat Multikultural

You might also like

Gaya Hidup

Kain Tenun Ikat Sumba Sebagai Barang Hadiah

Kain Tenun Ikat Sumba Sebagai Barang Hadiah oleh : Purwadi  Soeriadiredja Memberi hadiah, baik kepada orang-orang yang masih ada hubungan kerabat maupun kepada orang-orang yang bukan kerabat, merupakan suatu hal

Gaya Hidup

Kain Tenun Sebagai Bahan Dekorasi atau Perlengkapan Rumah.

Kain Tenun Sebagai Bahan Dekorasi atau Perlengkapan Rumah. oleh : Purwadi  Soeriadiredja Kain tenun tradisional Sumba sebagai warisan budaya ternyata mempunyai kemampuan adaptif menghadapi perubahan. Hal itulah yang menyebabkan produk

Agenda

Koentjaraningrat Memorial Lectures XIII/2017: KEMAJEMUKAN DAN KEADILAN

KOENTJARANINGRAT MEMORIAL LECTURES XIII/2017 KEMAJEMUKAN DAN KEADILAN Kamis, 9 Februari 2017, Pukul 09.00 – 14.00 WIB Auditorium Museum Nasional, Jakarta Kita dibiasakan untuk mengidentikkan kemajemukan dengan kerukunan, harmoni, persatuan. Pada

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply