Yudi Latif: Pancasila Ideologi Influsif Kemajemukan Indonesia

PANCASILA
IDEOLOGI INFLUSIF KEMAJEMUKAN INDONESIA

The accommodation of difference is the essence of true equality
(Will Kymlicka, 1996)

Abstrak

Mestinya kita tidak perlu gundah dengan pluralitas kebangsaan Indonesia. Toh, meminjam ungkapan Albert Einstein, Tuhan tidak sedang “bermain dadu” dalam desain penciptaan negeri ini sebagai negeri multikultural. Keragaman tidak selalu berakhir dengan pertikaian asal tersedia sistem pengelolaan yang tepat. Kita juga tidak perlu terobsesi dengan homogenisasi kebangsaan, karena keseragaman bukanlah jaminan kedamaian dan kesejahteraan.

Pada kenyataannya, realitas sejagad kontemporer menunjukkan hanya sedikit negara yang terdiri dari satu kelompok etno-kultural. Pada umumnya, negara modern merupakan negara dengan aneka suku-bangsa (polietnik). Bahkan, suatu negara dengan ragam kebangsaan pun hadir di pelbagai belahan dunia. Sehingga yang terakhir ini lebih tepat dikatakan sebagai “nations-state” ketimbang “nation-state”.

Profil Pembicara

Yudi Latif, adalah Ketua Harian Pusat Studi Pancasila, Universitas Pancasila, Jakarta. Menyelesaikan pendidikan doktoralnya dari The Australian National University. Salah satu karyanya yang monumental adalah Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (2011). Dalam rangka memperingati 44 tahun Media Indonesia (2014), buku ini dinobatkan sebagai salah satu dari 44 buku yang membawa perubahan dan mengubah Indonesia. Pergumulannya dalam pemikiran kebangsaan dan kemanusiaan membuatnya menerima sejumlah penghargaan (award): IFI (Islamic Fair of Indonesia) Award pada Desember 2011, untuk ketegori intelektual muda paling berpengaruh;  Ikon Politik Indonesia tahun 2011 dari Majalah Gatra; Nabil (Nation Building) Award  pada Oktober 2012,  dari Yayasan Nabil, sebagai pengakuan atas perjuangan dan pemikiran dalam menegakkan Pancasila sebagai sumbangan bagi nation building; Megawati Soekarnoputri Award, pada Desember 2012, sebagai penghargaan dalam memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan dan kemajemukan; Penghargaan Ilmu Sosial 2013 dari Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS); dan menerima Anugerah Kebahasaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 2014. Pada 2015, terpilih menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia; menerima Anugerah “Cendekiawan Berdedikasi” dari Harian Kompas; dan dinobatkan sebagai salah seorang dari “70 Tokoh Indonesia Membesarkan Negeri”, dari Fraksi Partai Nasional Demokrat.

Previous Geger Riyanto: Kesenjangan dan Kebencian dalam Relasi antar-Kelompok di Indonesia
Next Herawati Sudoyo: Asal Usul Keanekaragaman Manusia Indonesia

You might also like

Agenda

[MAKALAH] Koentjaraningrat Memorial Lectures XIII/2017: KEMAJEMUKAN DAN KEADILAN

[MAKALAH] Koentjaraningrat Memorial Lectures XIII/2017: KEMAJEMUKAN DAN KEADILAN Pembicara Pembicara Kunci: Hilmar Farid, Ph.D., Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kemajemukan dan Keadilan. Unduh: KML 2017_Makalah_Hilmar Farid_Kemajemukan dan Keadilan

Agenda

PANGERAN DIPONEGORO (1785-1855) DAN MASALAH KEPEMIMPINAN NASIONAL

KOENTJARANINGRAT MEMORIAL LECTURE XII/2014 “PANGERAN DIPONEGORO (1785-1855) DAN MASALAH KEPEMIMPINAN NASIONAL” Bulan Maret 2014 lalu, terbit sebuah buku karya sejarawan Peter Carey. Judulnya Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). Penerbitannya di

KML2017

Hilmar Farid: The Challenge of Reform under the Jokowi Presidency

The Challenge of Reform under the Jokowi Presidency Abstract While it is a cliché to say any reform faces a multitude of challenges that cannot be reduced to one single

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply