Dokumentasi Koentjaraningrat Memorial Lectures XII/2025: Makalah dan Video

Video kuliah umum dapat disimak di Youtube channel Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Silakan klik untuk simak
Koentjaraningrat Memorial Lecture tahun ini berupaya menghidupkan kembali semangat reflektif antropologi Indonesia untuk merawatnya. Dengan tema “Merawat Tubuh Bangsa”, KML
2025 menjadi ruang bagi antropolog untuk menilai ulang peran mereka di tengah proyek-proyek pembangunan yang membentuk masa depan manusia Indonesia: antara care dan kontrol, antara diagnosis dan harapan.
Isi Pembicaraan
Dr. Scott Guggenheim: Etnografi Lambat dan Kompleksitas Global
Scott Guggenheim merefleksikan perjalanan panjangnya selama lebih dari 40 tahun bekerja dalam pembangunan berbasis komunitas di Indonesia. Ia menyoroti tantangan fundamental dalam mengintegrasikan modal sosial ke dalam kerangka teknokratik dan birokrasi yang kerap kaku dan tidak responsif terhadap kompleksitas sosial lokal.
Guggenheim mengajak audiens untuk memahami pentingnya pendekatan “slow, embedded ethnography”—etnografi yang lambat, tersemat dalam, dan berakar pada praktik sosial sehari-hari—untuk menangkap kompleksitas desa di dunia yang telah berubah secara radikal. “The village is now global,” ucapnya, menggarisbawahi bagaimana dunia desa kini dipengaruhi oleh kapitalisme global, digitalisasi, perubahan iklim, migrasi, dan media sosial yang terus mengubah cara komunitas hidup dan bermakna.
Ia menekankan bahwa pembangunan antropologi hanya menghasilkan karya terapan yang baik ketika dilandasi teori sosial yang kuat dan riset empiris yang serius. Jika bisa mengulang kariernya, Guggenheim ingin lebih fokus pada tiga area: etnografi mendalam tentang lanskap sosial yang berubah, negara sebagai subjek etnografi (bukan hanya komunitas), dan pemahaman tentang modal sosial serta aksi kolektif yang dapat menjaga kesejahteraan jangka panjang masyarakat dari kerusakan akibat kebijakan pembangunan yang keliru.
Dr. Mia Siscawati: Gender, Care, dan Keberpihakan dalam Pembangunan
Dr. Mia Siscawati membahas peran sentral etika perawatan (ethics of care) dan dimensi gender dalam pembangunan, mengkritisi bagaimana kerja perawatan sering membebani perempuan dan termarjinalkan dalam skema pembangunan yang tidak memiliki keberpihakan gender.
Siscawati menekankan bahwa pemberdayaan tanpa analisis relasi kuasa dan gender hanya memperkuat ketimpangan sosial yang sudah ada. Ia akan membuka mata audiens tentang bagaimana program pembangunan yang sebelumnya hanya fokus pada infrastruktur kemudian bergeser ke perawatan tubuh—khususnya melalui program kesehatan, nutrisi, dan pemberdayaan perempuan—dan bagaimana kerja ini dibebankan kepada perempuan tanpa pengakuan memadai terhadap beban moral dan fisik yang mereka pikul.
Dengan perspektif feminis dan ekologi politik, Siscawati mengajak kita memikirkan ulang konsep “merawat tubuh bangsa” sebagai sesuatu yang tidak netral, tetapi penuh dengan relasi kuasa yang perlu diungkap dan dinegosiakannya dengan cermat untuk mencapai keadilan sosial-ekologis.
Dr. Hestu Prahara: Pembangunan Personhood dan Etnografi Sebagai Praktik Merawat
Dr. Hestu Prahara mengulas bagaimana pembangunan komunitas bukan sekadar membangun ruang sosial atau infrastruktur, tetapi juga memproduksi subyek baru dan merawat tubuh sebagai bagian dari proyek pembentukan manusia (personhood) yang sesuai dengan visi negara dan donor.
Hestu menunjukkan bahwa “komunitas” dalam program pembangunan seperti KDP dan PNPM bukanlah sesuatu yang alami atau sudah ada, melainkan diproduksi dan diatur melalui indikator, audit, pelatihan, dan intervensi harian.
Tubuh perempuan, khususnya, menjadi pusat dan medium dari pemberdayaan komunitas, di mana mereka diposisikan sebagai jantung dari pembangunan, sekaligus menjadi lokus intervensi negara melalui program kesehatan, nutrisi, dan parenting.
Hestu menegaskan pentingnya etnografi bukan hanya sebagai alat pengumpulan data, tetapi sebagai praktik merawat yang membuka ruang negosiasi, mengungkap ambivalensi dan beban moral dalam pembangunan yang seringkali tersembunyi di balik angka dan indikator.
Ia mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam konsep pembangunan sebagai jalur tunggal dan linear menuju modernitas, tetapi membuka ruang bagi keberagaman pengalaman, praktik merawat, dan aspirasi masyarakat yang beragam.
CV Naratif Singkat Pembicara
Dr. Scott Guggenheim
Dr. Scott Guggenheim adalah antropolog pembangunan yang telah berkarier lebih dari 40 tahun. Ia menempuh Ph.D. di bidang Antropologi Sosial dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, dan kini menjabat sebagai Director of Policy Labs dan Research Professor of the Practice di School of Foreign Service, Georgetown University.
Dengan kerangka kerja Modal Sosial, Guggenheim berperan kunci dalam desain Program Pengembangan Kecamatan (KDP) yang kemudian berkembang menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di Indonesia. Sepanjang kariernya, ia menggabungkan keahlian antropologi dengan tata kelola pembangunan berbasis komunitas, sambil terus melakukan refleksi mendalam tentang bagaimana pembangunan harus dilandasi riset empiris kritis dan teori sosial yang kuat.
Dr. Mia Siscawati
Dr. Mia Siscawati adalah antropolog feminis dan akademisi yang mengajar di Program Studi Kajian Gender, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia. Ia memegang gelar S.Hut. (Kehutanan), M.A. (Kajian Gender), dan Ph.D. (Antropologi) dari Universitas Indonesia.
Fokus risetnya adalah pada interseksi antara gender, lingkungan, dan pembangunan di Indonesia. Ia dikenal sebagai aktivis yang mengkritisi wacana pembangunan dari perspektif etika perawatan dan keberpihakan gender, terutama menyoroti kerja perawatan sosial dan ekologis yang tersembunyi dalam praktik pembangunan dan dinamika kekuasaan yang selama ini sulit terlihat.
Dr. Hestu Prahara
Dr. Hestu Prahara adalah dosen dan peneliti di Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Ia menempuh pendidikan S1 Antropologi Sosial di Universitas Indonesia (2003-2008), melanjutkan dengan M.A. Antropologi di Universitas Indonesia (2011-2013), kemudian M.A. di bidang Asie Meridionale et Oriental, Terrains, Textes, et Sciences Sociales di ECOLES DES HAUTES ETUDES EN SCIENCES SOCIALES (EHESS) Paris (2013-2014), dan menyelesaikan Ph.D. dalam Development Studies di University of Auckland, Selandia Baru (2017-2024).
Riset Hestu menyoroti imajinasi teknokratis, pembentukan subyektivitas (“personhood”), dan praktik etnografi kritis dalam konteks pembangunan berbasis komunitas. Ia sangat kritis terhadap cara pembangunan membentuk komunitas dan merawat tubuh, khususnya tubuh perempuan, sebagai medium pembentukan norma sosial dan moral baru dalam proyek-proyek pembangunan.
Makalah Dr. Scott Guggenheim, Membayangkan Kembali Pembangunan Desa di Era Ketidakpastian
Makalah Dr. Hestu Prahara, Antropologi (tentang) Terapan: Peluang Terapan dan Tantangannya
Video dokumentasi kuliah umum merupakan dokumentasi milik Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
Makalah kuliah umum merupakan milik para penulis/pemberi kuliah.
Info: info@fkai.org, 08129484957
You might also like
DARURAT KEINDONESIAAN
Gerakan Antropolog Untuk Indonesia Yang Bineka dan Inklusif “Berbagai pertanda jelas memperlihatkan nilai-nilai keindonesiaan kita, termasuk semboyan kebangsaan “Bhinneka Tunggal Ika”, terus menerus digerus.” Pengamatan itulah yang memicu hampir 300
Susunan Acara Koentjaraningrat Memorial Lectures XII/2015: NARKOBA, SEKSUALITAS & POLITIK
“… nilai budaya yang berorientasi ke masa depan…, sifat hemat…, hasrat untuk bereksplorasi dan berinovasi…, pandangan hidup yang menilai tinggi achievement dari karya…, nilai budaya yang kurang berorientasi vertikal…, sikap
Pemimpin Nasional: Imam Bonjol dan Gerakan Padri
Imam Bonjol dan Gerakan Padri oleh: Bondan Kanumoyoso Departemen Sejarah FIB UI Berbeda dengan dunia Maluku yang merupakan wilayah penghasil rempah-rempah yang sumber kehidupannya berasal dari kegiatan perdagangan maritim, Sumatra


0 Comments
No Comments Yet!
You can be first to comment this post!