PROGRAM BOOK: Koentjaraningrat Memorial Lectures XIII/2017
Sejak akhir tahun 2016 lalu dinamika sosial di Tanah Air berkembang ke arah yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Muncul ke permukaan sebuah gerakan sosial-politik yang, akibat pembiaran, tiba-tiba telah membesar dan mulai menyeret bangsa ini menjauh dari ideologi Pancasila dan semboyan nasional Bhinneka Tunggal Ika. Gerakan mewujud dalam bentuk aksi unjuk rasa, yang menjadi setiap warga di negara demokrasi seperti Indonesia.
Aksi unjuk rasa itu, yang diselenggarkan dua kali pada November dan Desember 2016, mestinya cuma berdimensi sosial-keagamaan dan bersifat lokal, karena persoalan yang digugat hanya menyangkut Gubernur DKI Jakarta. Nyatanya, aksi digelar di depan Istana Presiden, lambang kekuasaan tertinggi negara, dan dengan mengerahkan massa secara besar-besaran, bahkan dari berbagai daearah di luar Jakarta. Hal ini menjadikan aksi demonstrasi berbau politik dan mengesankan bersifat nasional.
Sebelum maupun setelah aksi unjuk rasa, di berbagai daerah juga terjadi sejumlah tindakan kekerasan dan pemaksaan kehendak yang dilakukan anggota organisasi-organisasi keagamaan tertentu terhadap penganut agama atau keyakinan lain. Berbagai pihak menengarai, kedua aksi unjuk rasa –yang lebih pas disebut aksi unjuk kekuatan—sebenarnya hanya bagian dari rangkaian aksi intoleransi tersebut, karena penggelarannya juga terkait dengan soal perbedaan keyakinan. Koentjaraningrat Memorial Lecture kali ini tidak diadakan untuk secara langsung merespons berkembang ekstremisme dan intolerasi, fenomena sosial-budaya yang memunculkan kecemasan banyak pihak, termasuk para antropolog Indonesia.
Tumbuh suburnya ekstremisme dan intoleransi dianggap sebagai indikasi kian menguatnya semangat penyeragaman sekaligus menggerus semangat sekebinekaan yang telah disepakati dan selalau digelorakan para bapak bangsa.
Kuliah umum ini lebih bertujuan untuk menyadarkan kembali kita semua akan takdir kebinekaan kita. Juga untuk menyegarkan kembali ingatan pada Pancasila dan semboyan kebangsaan Bhinneka Tunggal Ika, yang berati “Berbeda-beda Namun Satu Jua”. Mungkin kini sudah saatnya Pancasila ditafsir ulang, diajarkan, dan dihayati dengan cara yang lebih baik dan benar. Kuliah dan diskusi ini pun diselenggarakan untuk mengingatkan bahwa kebinekaan bangsa tidak selalu identik dengan kehidupan yang rukun, bersatu, dan harmonis seperti yang kerap dibayangkan. Hadirnya keadilan merupakan syarat mutlak bagi terciptanya masyarakat majemuk yang bersatu dalam kedamaian dan keselarasan.
Koentjaraningrat Memorial Lecture merupakan agenda kegiatan tahunan Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI) sejak awal pendiriannya, 2004. Diselenggarakan untuk menghormati dan memperingati jasa-jasa alm Prof Dr Koentjaraningrat, bapak antroplogi Indonesia. FKAI adalah yayasan yang didirikan sejumlah antropolog dan bertujuan untuk ikut mengembangkan antropologi di luar dunia perguruan tinggi dan lembaga-lembaga pemerintah serta memperjuangkan terciptanya bangsa Indonesia yang majemuk, adil, dan makmur.
You might also like
Press Release: Koentjaraningrat Memorial Lecture XXI/2024 – 3 Juni 2024, Auditorium Mochtar Riyadi, FISIP UI-Depok
“Dilema Intelektual di Masa Gelap Demokrasi: Tawaran Jalan Kebudayaan” (Sulistyowati Irianto) Saat ini Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya dimulai ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dilemahkah melalui revisi Undang-Undang,
Pameran Pengaruh Kebudayaan Peranakan Pada Corak Hias Batik Pesisiran
RILISAN PERS PENGARUH KEBUDAYAAN PERANAKAN PADA CORAK HIAS BATIK PESISIRAN 21 Maret – 9 April 2017 Museum Tekstil Jl. Aipda KS Tubun No. 2-4, Petamburan, Palmerah, Jakarta Barat Bangsa Indonesia
PEMIMPIN NASIONAL SEBAGAI RATU ADIL
PEMIMPIN NASIONAL SEBAGAI RATU ADIL Oleh: S. Budhisantoso Pusat Studi Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Hidup UI Selain tekanan sosial, politik dan keamanan akibat pertikaian internal kerabat raja, Gangguan keamanan dan



0 Comments
No Comments Yet!
You can be first to comment this post!